Matt dan Elektra


Sudah lama tidak membuat postingan disini. Terlebih karena kemaren sempat ada blog lain yang diurusi. Tapi sekarang blog yang satu itu pun sudah kurang terurus, dan malah aku pegang hal yang lain.

Aku rasa memang aku ada sedikit kelemahan dalam hal konsistensi. aku tertarik melakukan banyak hal yang baru dan yang berbeda dari lainnya. Ide yang kudapat seringkali sangat baik. Tapi ketidakmampuanku untuk konsisten membuat semua hal hanya bertahan sebentar saja setelah itu hilang. Mulai hal yang baru lagi.

Sekarang aku juga sedang bingung bagaimana melanjutkan apa yang sudah aku kerjakan sekarang. Aku terpikir sesuatu, tapi tak begitu yakin apakah itu yang memang harus aku lakukan. Disaat seperti ini aku pikir, senang rasanya bisa menyampaikan hal ini kepada orang lain dan berbicara tentang hal itu. Seringkali ada banyak pertanyaan, keraguan dan kebingungan yang harus dipikirkan sendiri. Tapi selalu saat hanya berpikir sendiri, akhirnya harus kupilih berhenti, karena aku tak tahu apa lagi alasan untuk melanjutkannya.

Tapi siapa yang benar-benar mau mendengar?

Mungkin ada banyak solusi dalam pikiranku, tapi aku pikir aku butuh diyakinkan untuk hal itu. Aku berharap bisa menceritakan dengan bebas hal tersebut tanpa ragu hal itu akan dianggap tidak penting.

Mungkin belum waktunya ada orang yang mau mendengarkan. Memang harus terhenti lagi dalam langkah yang sama, dimana tak mampu melangkah bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak yakin.

Ketika melankolis melanda, maka itu mengambil bagian yang kuat dalam diri ini. Logika berjalan dengan baik, namu perasaan yang fokus pada diri sendiri itu yang lebih kuat. Menerima nasib dengan mengulang-ngulang betapa tidak layaknya, menjadi hal yang terus dilakukan. Dan itu tidak menyenangkan, karena itu berarti akhir perjuangan. Dan aku harus menunggu sampai waktu vakum yang aku tidak tahu, yang mungkin akan lebih cepat saat ada masalah yang terjadi.

Tapi sejujurnya aku tidak tahu itu kapan waktunya.

Mungkin memang baru dinding ini yang bisa diajak meluapkan apa yang dirasakan. Dinding ini memang mendengar, tapi dia tak bisa merespon. Tapi itu lebih baik, daripada hal ini harus selalu dipikirkan sendiri.

Biarlah dinding ini yang memikirkan itu dan tak perlu beritahu aku lagi.

Seven Samurai (1954) – Review Film Indonesia


Review film kali ini adalah tentang seorang veteran samurai yang mengalami kejatuhan besar dalam hidupnya, memenuhi permintaan penduduk sebuah desa untuk melindungi desa mereka. Dia mengumpulkan 6 samurai lainnya, mengajari penduduk desa melakukan strategi bertahan dan mereka diberi makan nasi sebagai bayarannya. Puncak film ini adalah pertarungan mereka dengan 40 bandit.

Adventure, Drama
IMDB Rating : 8.7

Hujan di Senin Pagi Kabanjahe


image

Katanya hujan bisa membuat berbagai memori terulang kembali.
Dan kali ini hujan terjadi di pagi hari di kota Kabanjahe.
Bukan facebook, tapi hujan yang mengingatkanku tentang memori beberapa tahun lalu.
Di saat dimana kalau yang namanya hujan di pagi hari, enak kali kalau tidur.
Tapi yang gak enak itu adalah harus bangun di pagi hari, karena hari senin harus sekolah.

Selalu ada pikiran yang berusaha meyakinkan untuk tidak usah sekolah, lanjutkan saja tidurnya.
Tapi nyatanya, pikiran itu kalah juga dengan teriakan kakakku dari dapur ikut sama bunyi kuali2nya.
Ya harus tetap sekolah.
Tak usah mandilah, yang penting cuci muka dan sikat gigi. Habis sarapan pergi ke sekolah.

Di sekolah, seluruh siswa punya harapan yang sama.
Sama-sama berharap upacara tak dilaksanakan, guru terlambat datang dan rupanya ada rapat dadakan.
Jadinya bisa malas-malasan di kelas.
Tapi sayangnya harapan itu selalu sirna.
Upacara bendera tetap terjadi.
Guru datang tepat waktu, menagih janji. (PR :D)
Dan rapat dadakan tak pernah terjadi.

Di tulis di Sinabung Jaya Raya
November 2016

 

PS:

setelah ku survey dari yang telah komen, sepertinya banyak yang bingung sama posting ini ya 😀 Gaya bahasaku emang kacau disini :D. Ini sebenarnya sejenis curhatan begitu, bukan puisi 🙂

Inti posting ini sebenarnya adalah tentang mengingat kenangan di kampung halaman. jadi kalau mau komentar, boleh kasi komentar terkait itu ya 🙂

*padahal rencana mau buat postingan yang bagus di sesi terakhir “berbagi dan komentar” yang akan dihapuskan dari jadwal rutin pojok WB. Kapan lagi coba blogku punya kesempatan dikomentari lebih dari 40 orang 🙂

kalau rumah sepi, tiba-tiba ada banyak tamu yang datang, kan senang rasanya kan 🙂

will miss this session, berbagi dan komentar.

Gak Foto Makanan Bukan Berarti Makan Jadi Kurang Bermakna


Kebiasaan anak muda sekarang kan foto2 makanan ya.
Apalagi kalo dia emang food blogger, ya sudah wajiblah itu.

Jadi tadi, aku ditraktir makan sama kakakku di tempat makan yang ada dimsum2nya gitu di Sun Plaza. Ya, kalo makan begini kan pasti photoable kan 😀
Udah nyampe dimsumnya, aku kepikiran foto gak ya, foto gak ya.
Tapi aku memang gak biasa foto2 begitu, biasa orang lain inisiatornya, jadi agak aneh kurasa kalo aku yang foto2 makanan di rumah makan 😀
Lagian aku juga bukan food blogger.
Walaupun begitu, aku galau juga, padahal jarang makan dimsum2an, ya potolah ya.
Sampai akhirnya aku sampai di satu kesimpulan:
“Ya kalo mau makan dan bareng orang, intinya ya makan dan cerita2lah sama orang itu.”

Tak jadilah kufoto makanan yang udah kumakan tadi, makanya tak ada foto makanan di post kali ini 😀
Kami pun makan dan aku sangat menikmati pembicaraan kami hari ini, walaupun tak ada foto-foto 😀

NB:
Buat pojok wb, maaf pendek kali postnya ya.
Aku masih gagal moveon buat ledakan imajinasi yang baru, karena aku baru ngalami beberapa kegagalan dalam merealisasikan ledakan imajinasiku 😀