Mau Tahu Dampak Bila Tidak Menjaga Lingkungan? Tonton Film The Lorax


Kemarin aku menonton film the lorax.
Film berkisah tentang sebuah kota bernama ThneedVille, yang sama sekali tidak memiliki pohon asli dan udara segar.
Pohon dibuat di pabrik, dan udara segar menjadi barang dagangan di kota ini.
Mengapa ini terjadi?

Dikisahkan bahwa dulunya ada banyak pohon di sekitar kota ini. Namun seorang bernama Onceler berniat menebang pohon yang ada disitu untuk membuat sebuah kain multifungsi bernama thneed. Awalnya dia hanya menebang satu pohon saja untuk membuat 1 buah kain. Disaat dia menebang pohon tersebut, muncullah penjaga hutan bernama Lorax. Lorax mengingatkannya, bahwa jika once-ler terus menebang pohon yang ada disitu, maka akan mengganggu kehidupan hewan-hewan yang ada di hutan itu.

Awalnya once-ler tersadar, dan akhirnya memutuskan untuk tidak menebang pohon, tapi hanya memanen daun pohon sewajarnya saja. Namun karena tuntutan dari keluarganya, akhirnya ia pun kembali berniat menebang pohon yang ada disitu, untuk memudahkan mengambil semua daun. Dan akhirnya, seluruh pohon pun habis ditebang. Semua hewan pun perfi dari tempat itu. Tak hanya mengganggu hewan, ternyata penebangan pohon itu pun berdampak pada kurangnya udara segar karena tidak ada lagi pepohonan.

——————————————-

Mengapa aku menyarankan film ini bagi yang tidak peduli dengan pohon?
Karena film ini memberi penjelasan yang detail apa yang akan terjadi jika kita tidak melestarikan pohon yang ada. Bila selalu terjadi penebangan pohon secara liar dalam jumlah massif, apa yang terjadi? Berikut beberapa hal yang film ini jelaskan.
1. Hewan akan kehilangan habitat dan akan berpengaruh terhadap proses rantai makanan yang turut mengancam kelangsungan hidup manusia
2. Produksi udara segar langka, karena tingkat polusi begitu tinggi sedangkan pohon yang memproduksi oksigen tidak ada. Akan tiba saat dimana udara segar menjadi barang dagangan (kabarnya 1 tabung oksigen sekarang, yang dipergunakan di rumah sakit harganya Rp 60.000)
3. Orang-orang di kota yang serba canggih dan maju, merasa semua baik-baik saja, padahal di tempat yang begitu banyak pohon sudah gundul. Ini berarti, orang-orang merasa semua baik-baik saja dan tidak peduli dengan kondisi pohon yang semakin sedikit.

Agar lebih jelas, aku menyarankan kalian menonton film ini. Ini adalah film animasi, dan mungkin hanya animasi biasa. Tapi bagiku, film ini jelas menggambarkan apa yang akan terjadi jika pohon terus ditebang akibat kita manusia, tidak bisa mengendalikan keinginan pribadi kita yang seringkali fana.
Jangan sampai tiba saatnya dimana uang tidak bisa berubah jadi oksigen (analogi dari pepatah Indian)

Sebuah Apresiasi Untuk Para Pengantar


Para pengantar?
Siapa mereka?

Beberapa hari lalu, aku diantar pulang oleh rekan satu tim di paskah alumni dan mahasiswa.
Ini bukan pengalaman pertama aku diantar.
Aku yang pecinta angkot ini memang sering kehabisan angkot kalo sudah malam, jadinya harus minta tolong diantar pulang. Kebanyakan ngantar pake kereta a.k.a sepeda motor *di medan sebutan sepeda motor itu kereta :D
Dari sekian ratus x aku diantar ke rumah, akhirnya di saat itulah aku tiba pada satu pertanyaan.

“Apa yang dirasakan yang mengantar ini setelah dia pulang sendiri?”

Aku mulai berpikir. Selama diperjalanan aku yang dibonceng sering bercerita dengan yang mengantar. Walau malam sudah larut, tapi kalau bercerita pasti tak terasa. Tapi kalau tak ada teman bercerita, apa yang terjadi?

Aku sebagai yang diantar sudah bisa menikmati makanan dan minuman sambil nonton ataupun berbicara dengan keluarga?
Tapi bagaimana dengan si pengantar?
Dia masih harus kembali ke tempat tujuannya, sendiri. Hanya berpikir sendiri, menanti di lampu merah sambil berdiam diri. Berusaha untuk mengingat kembali jalan pulang, karena memang masih asing dirasakan. Bukan tak lelah membawa kereta, setidaknya begitulah penuturan kawanku di kuliah dulu.

Bahkan di kondisi yang sekarang begal lagi marak-maraknya dan dulu geng motor, pasti ada perasaan was-was di dalam hati.

Biasa kalo aku diantar, hanya mengucap terima kasih. Tak membayar, karena nanti macam ojek pulak jadinya. Jadi mungkin inilah yang bisa kukasi dulu ya.

“Sebuah apresiasi”

Setelah pertanyaan ini muncul, dan akhirnya berpikir seperti penuturan diatas, aku tahu bahwa aku harus mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa ada orang yang masih mau seperti ini. Sudah lelah badan terasa, siap ngantar putar balik lagi menuju ke rumah/kosan, dan itu sendiri.
Sesungguhnya aku percaya orang-orang seperti ini pasti Tuhan sudah siapkan kado-kado atas setiap pengorbanan yang dikerjakan.
Itu yang aku pikirkan. Tuhan punya rencana yang baik untuk orang-orang ini.
Memang bisa saja malas melanda, tapi mereka memilih bersedia.

Inilah yang bisa kuberikan, sebuah apresiasi.
Tak ada maksud membuat post ini agar:”makin sering aku diantar pulang nanti, karena udah kuapresiasi dan kupuji”
Hahaha
Aku selalu mengusahakan lebih memilih angkot, karena angkot punya banyak cerita.
Jadi kalo udah gak realistis lagi dapat angkot, barulah cari bala bantuan :D

So, mungkin kalian masih akan punya “quests” atau petualangan-petualangan lagi dalam mengantar orang ke depannya.
Tapi biarlah kalian terus bersemangat.
Karena percayalah selalu ada orang yang bersyukur untuk kalian, dan Tuhan senang disaat kalian menjadi berkat bagi sesama.

Bagi yang sering diantar pulang, mari tetap ingat menyampaikan terima kasih kepada para pengantar.

See ya :)

sumber gambar: https://achmadsyaroni.files.wordpress.com/2013/01/mbahe-rossi.jpg

Mengapa Harus Berobat Ke Penang? (Pengalaman Di Penang Part 3)


Mengapa banyak orang berobat ke Penang?
Jauh-jauh ke Malaysia untuk check-up saja?
Mau cek darah harus ke Penang.
Mau ngobati pilek, berobat ke dokter THT di Penang
Mau periksa kulit, harus ke dokter kulit di Penang
Mau cantik, harus ke dokter kecantikan di Penang
Mau ganteng, harus ke dokter kegantengan di Penang *ehh, ini gak ada ya :D
Inilah yang terlintas di pikiranku saat aku berada disana.

Ribuan dokter lulus di Indonesia tiap tahunnya, baik spesialis dan umum.
Bukankah sangat sulit untuk masuk di fakultas kedokteran, sehingga orang yang bisa masuk pun pasti memiliki kecerdasan yang baik?
Tapi mengapa ya orang lebih memilih berobat ke Penang saja?
Apakah dokter-dokter kita tidak sanggup memberikan diagnosis tepat yang berujung pada kesembuhan?

Orang yang memiliki kondisi keuangan yang minim pun, kalau diberi sumbangan aku rasa akan lebih memilih memesan tiket pesawat untuk berangkat ke Penang berobat.
Apa yang terjadi dengan rumah sakit di Indonesia?
Kita bayar fasilitas rumah sakit, masuk ke devisa negara Malaysia.
Kita bayar ongkos pesawat dan taksi/bus disana, masuk ke devisa negara Malaysia.
Kita beli makanan di sana, masuk ke devisa negara Malaysia.
Kita niatnya berobat, tapi mau sekalian wisata juga, masuk ke devisa Negara Malaysia
Jadi kapan kita nambah devisa Negara Indonesia?
Ah, ngapain nambah devisa Negara Indonesia, toh di korupsikan juga. *mungkin seperti ini anggapan kita
Nambah devisa ke Negara Malaysia gak apa-apalah , yang penting pulangnya sembuh.

Apa kesembuhan jadi barang yang langka di Indonesia?
Ato sebenarnya tidak. Kesembuhan tetap bisa di Indonesia.
Jadi dimana sebenarnya masalahnya ya?

Yang mau ngasi tanggapan silahkan tinggalkan komentar.
Yok brainstorming.

yang mau lihat pembahasan tentang dokter di penang juga, bisa lihat postku sebelumnya:
https://jakupsinusinga.wordpress.com/2015/03/03/dokter-dan-sistem-pendukung-keputusan-pengalaman-di-penang-part-2/

sumber gambar: naked-traveler.com

Review Buku “Facing Your Giants”


Judul : Facing Your Giants
Penulis : Max Lucado
Penerbit : Gloria Graffa
Tahun Terbit : 2006
Tebal : 255 Halaman

“Goliat anda tidak membawa pedang atau perisai; ia mengacungkan pisau pengangguran, pengasingan, penganiayaan seksual, atau depresi. Raksasa Anda tidak berjalan-jalan naik-turun bukit-bukit Tarbantin; ia melompat-lompat melalui kantor, tempat tidu, kelas Anda. Ia membawa tagihan yang tidak dapat Anda bayar, kenaikan tingkat yang tidak dapat Anda raih, orang-orang yang tidak dapat Anda puaskan, wiski yang tidak dapat Anda tinggalkan, pornografi yang tidak dapat Anda tolak, karier yang tidak dapat Anda hindari, masa lalu yang tidak dapat Anda hapus, dan masa depan yang tidak dapat Anda hadapi.” (hal 14)

Ya memang di zaman sekarang ini, kita tidak lagi menemukan manusia bertubuh raksasa layaknya Goliat (tingginya 2,97 meter). Tapi rasa takut, rasa tidak mampu, rasa putus asa, rasa kesepian, rasa ingin mengakhiri hidup, yang sama seperti Goliat, seperti raksasa yang terus memburu dan mengejek kita, melemahkan kita, mungkin masih kita rasakan hingga saat ini. Raksasa yang kita hadapi serasa tak mungkin untuk dikalahkan dan ditaklukan, sama seperti Daud yang kelihatan sangat mustahil dapat mengalahkan Goliat dengan hanya mengandalkan umban batu saja. Tapi Daud dapat menaklukkannya. Apa rahasianya?

Buku ini membukakan perspektif yang seharusnya bagaimana kita memandang setiap raksasa yang ada dalam hidup kita. Dengan contoh dan pengalaman penulis, kita jadi lebih gampang untuk merefleksikan dan memposisikan diri kita sebagai orang yang sedang menghadapi raksasa besar.

Anda malu dengan kegagalan-kegagalan yang anda alami saat melawan raksasa-raksasa dalam hidup? Penulis melalui buku ini, mampu membuat saya bisa menerima diri sendiri apa adanya, tanpa saya harus dihakimi atas kegagalan dan kesalahan saya yang sering kali ke dalam satu lubang kesalahan yang sama, yang sangat sulit untuk saya taklukan. Melalui buku ini, saya juga mengerti bahwa memiliki kesalahan ataupun kegagalan yang dalam hal ini digambarkan sebagai raksasa bukanlah suatu hal yang hanya saya alami sendiri saja. Semua orang pun punya raksasa masing-masing dalam hidupnya, bahkan seorang tokoh Alkitab sekaliber Daud yang kisah dan mazmurnya masih terus mengagumkan hingga kini. Oleh karena itu saya lepas dari rasa tertekan, karena ternyata ada banyak orang merasakan hal yang sama.

Perjalanan seorang Daud, tak berhenti hanya saat dia berhasil mengalahkan Goliat. Tapi raksasa yang menakutkan terus bermunculan mulai dari dia dikejar-kejar oleh Saul untuk dibunuh, saat dia jatuh ke dalam dosa perzinahan dan juga disaat dia memiliki konflik dengan keluarganya sampai-sampai anak kandungnya sendiri ingin mengkudeta dan. membunuhnya. Walaupun kisah Daud ini sudah beribu tahun yang lalu, namun penulis mampu menggali dan menjelaskan dengan baik hingga tetap relevan dengan kondisi dan permasalahan yang kita alami di hidup kita dalam zaman ini.

Jadi apakah anda sedang mempunyai raksasa dalam hidup anda?

Anda sedang dikejar-kejar oleh rasa bersalah, rasa gagal, rasa emosi, rasa depresi atau rasa-rasa yang ingin membuat anda cepat-cepat meninggalkan dunia ini karena serasa tak akan mungkin untuk mengatasinya?

Mungkin buku ini bisa membantu anda untuk memperoleh kemenangan atas raksasa anda dalam hidup sehari-hari :)

Gbu :)

buku ini dapat dipesan disini:

http://www.bukurohanigloria.com/product/view/212/facing_your_giants.html#.VPc1fS4YNf0

Dokter dan Sistem Pendukung Keputusan (Pengalaman di Penang Part-2)


Aku baru saja pulang dari Penang, karena menemani mamakku check up. Ada beberapa bagian tubuh mamakku yang dirasakan kurang baik selama ini, sehingga mamak mau check up memastikan apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuhnya. Dan salah satunya bagian hidung dan telinga mamak yang di cek.

Kami pun pergi ke dokter THT di rumah sakit Gleneagles Penang. Berkonsultasi dengan kerabat yang membantu kami selama disana (Bi Ruth Ginting dan Kak Sarce Sopamena) akhirnya kami diarahkan untuk menjumpai dr Palaniappan, dokter spesialis THT.

Segera kami mengatur jadwal bertemu dengan dokter di bagian bawah rumah sakit. Setelah mendaftar, kami bergegas ke lantai tempat ruangan dokter berada.

Ternyata tidak banyak yang mengantri untuk berjumpa dengan dokter, sehingga kami pun bisa cepat jumpa dengan dokter.

Masuk ke dalam ruangannya, kami mendapati dokter yang berada di depan laptopnya yang sudah kelihatan “berumur” atau lama. Juga kami dapati perawat di dalam, juga di depan computer, tapi komputernya lebih canggih dari laptop pak dokter. *dari mataku memandang ya :D.

Dipersilahkan duduk, mamakku pun mulai bercerita tentang apa yang dirasakannya dan disinilah kegunaan laptop akhirnya tersingkap.

Kupikir laptop ini hanya digunakan dokter untuk internetan saja. Ternyata pada waktu mamak menyampaikan keluhan, dokter selalu mengetik sesuatu di laptopnya. Cukup lama dokter mengetikkan sesuatu hingga akhirnya mamak diperiksa secara fisik. Aku pun tiba dalam satu kesimpulan, bahwa yang digunakan dokter itu adalah sebuah software Sistem Pendukung Keputusan.

Memang aku tidak melihat langsung softwarenya, karena seganlah, masak aku pergi ke samping dokter untuk melihat-lihat apa yang diketiknya. Nanti malah dikiranya aku mau minjam laptopnya untuk kupakai main games. Memang pengen pinjam juga sih, soalnya udah lama gak main game karena laptopku sedang rusak -___-. Ehh, tapi bukan itu poinnya. Jadi walaupun aku belum melihat langsung softwarenya tapi aku menduga itu Sistem Pendukung Keputusan.

Apa itu Sistem Pendukung Keputusan?

Sistem Pendukung Keputusan atau yang sering disingkat di kampus kami SPK adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer (termasuk sistem berbasis pengetahuan (manajemen pengetahuan)) yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan. (wikipedia)

Jadi SPK yang di gunakan si dokter akan memudahkan dia untuk mengambil keputusan, apa sebenarnya yang terjadi dalam tubuh mamakku. Walaupun tidak digunakan sebagai keputusan mutlak, tapi setidaknya itu bisa menjadi bahan perbandingan antara kesimpulan diagnosis dokter dan yang SPK simpulkan.

Apa yang kita pelajari dari sini?

Dokter butuh software yang bisa membantu dia dalam mendiagnosis penyakit pasien. Siapa yang bisa membuat software itu? Ya pasti mahasiswa dan lulusan Ilmu Komputer lah.

Disini saya mau kembali mengajak teman-teman yang sedang membuat skripsi dan tugas akhir untuk membuat penelitian yang berdaya guna dan kalau bisa aplikatif. Karena memang secara fakta itu sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang, salah satu contohnya adalah kedokteran ini. Dengan tingkat keakuratan yang tinggi yang kita percaya itu bisa terealisasi dengan penelitian yang serius, maka setiap peelitian yang anak Ilmu Komputer lakukan bisa “sangat” berdampak terhadap hidup seseorang.

Mengapa tidak membuat skripsi yang berguna dan berdampak bagi banyak orang?

Semangat pejuang skripsi :)

Sumber gambar:http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2013/04/23/article-2313401-19717D6F000005DC-994_468x286.jpg

Apakah Anda Sedang Berada Di Ketinggian?


image

Sumber gambar: http://erik-nac.blogspot.com.

Berada di ketinggian
Membuat sulit mendengar yang dibawah
Berada di ketinggian
Membuat semuanya kelihatan rendah
Berada di ketinggian
Membuat segalanya bisa disuruh seenaknya
Berada di ketinggian
Membuat malas berbuat apa-apa
Berada di ketinggian
Membuat rasanya tidak butuh pertolongan
Berada di ketinggian
Membuat merasa bisa melakukan semuanya
Berada di ketinggian
Membuat ingin semua harus sempurna
Berada di ketinggian
Membuat gampang menghakimi dan menyalahkan
Berada di ketinggian
Membuat semuanya tentangku dapat dimaklumi, sedangkan tentangmu tidak
Berada di ketinggian
Membuat aku sudah puas dan tak mau berusaha lagi
Berada di ketinggian
Membuat jarang berkomunikasi dengan orang di bawah
Berada di ketinggian
Membuat sulit diingatkan dan diajari
Berada di ketinggian
Membuat merasa sudah tahu segalanya
Berada di ketinggian
Membuat lebih gampang terjatuh ke bawah
Berada di ketinggian
Membuat semuanya dianggap remeh

Apakah ada yang sedang berada di ketinggian sekarang?
Mungkin anda dan saya bisa bersama turun sebentar dari ketinggian. :)

Jalan Jones Di Kota Penang (Pengalaman di Penang Part-1)


3 hari berada di kota Penang, ada banyak hal baru dan berbeda dari yang kuketahui di Indonesia. Walaupun ini kali kedua aku ke kota Penang dan keduanya adalah menemani mamakku check up bukan wisata *katanya kalo berobat ke Penang ini termasuk wisata juga lho, wisata medis. Soalnya udah banyak kali orang Indonesia berobat ke Penang ini, sambil jalan-jalan juga kayaknya :D

Sampai di bandara Internasional Penang, sepertinya masih biasa-biasa saja. Karena dimana-mana pun bandara canggih-canggihnya semua. *KualaNamu juga canggih coy :). Barulah saat keluar dari bandara dan di perjalanan menuju rumah sakit, aku melihat banyak hal yang baru.

Dari segi ketertiban berkendara, disini semua pengendara sangat tertib mengikuti aturan berkendara serta rambu lalu lintas. Kalo berhenti ya berhenti, maju ya maju. Tidak ada yang menyerobot. Jadinya perjalanan terasa aman *kalo masalah macet, walaupun disini semua sudah taat peraturan, tapi di saat jam sibuk tetap macet, karena mungkin semua kendaraan sudah keluar. Beda dengan kampungku, kalo lampu merah jalan, lampu hijau berhenti :D

sumber : http://wongchunwai.com/images/stories/metd_az_0709_WCW10_jalan%20jelutong.JPG

Kebersihan disini juga sangat baik. Hampir jarang aku melihat sampah bertumpuk atau berserakan di tepi dan tengah jalan. Setiap jalan ada tempat sampah dan tanda peringatan “Ketahuan Buang Sampah Sembarangan Didenda RM 500” atau senilai Rp 1.750.000. Jadinya jalanan bersih dan sah ini jadi luar negeri. Sebenarnya kalo kulihat, Penang dengan Medan gak jauh bedanya, mirip-mirip. Tapi yang paling membedakan adalah kebersihannya. Kalo di kampungku, kalo buang sampah pada tempatnya malah yang didenda. Didenda dengan rasa sedih karena dibilang “Sok baik kali pun” :D

sumber: https://lh6.googleusercontent.com/-VHeVgAHWPnI/VEXweWunFNI/AAAAAAAAAAw/uz1pBt5b1d0/s250-c-k-no/Toko%2BGerbang

Yang berbeda lagi kulihat adalah dari segi teknologi. Pernah aku mau beli air mineral di sebuah took kelontong. Kalo nengok tokonya, ya sama aja macam took di Medan ini kulihat. Ada ibu-ibu yang jaga ditemani orang tuanya yang lagi duduk di sekitar tumpukan beras. Persis samalah macam took kelontong disini. Gerbangnya juga gerbang biasa, macam gerbang rumahku. Tapi yang berbeda adalah, saat aku mau masuk ke toko itu gerbangnya tertutup, dan tidak ada dari ibu-ibu tersebut yang mau membukanya. Bah gak dianggap aku jadi pelanggan bah pikirku *sing: Sebagai pelanggan yang tak dianggap aku hanya bisa, mencoba bersabar.. Pelanggan Yang Tidak Dianggap by Pingkan Mambo. Tenyata aku salah sangka. Rupanya gerbangnya terbuka secara otomatis, karena sudah dipasang teknologi untuk membuka tutup sendiri saat sensor menangkap ada yang mau masuk ke dalam. Kalo di Medan, yang begini-begini cuma ada di mall. Jadi di Penang ini atau di Malaysia lah kubilang mungkin, teknologi sangat dipergunakan di berbagai tempat.

Ya masih ada banyak hal yang berbeda kudapatkan di kota Penang ini. Tetapi ada satu hal yang paling baru dan berbeda, yang kudapatkan di kota Penang ini. Apakah itu?

Ada satu nama jalan yang aku lihat di dekat penginapan kami, yang berbeda dengan jalan lainnya. Jalan ini sangat sepi dan jarang kulihat orang lewat. Saat aku berjalan di jalan ini, rasanya tenang sekali karena mewakili apa yang sedang aku rasakan. Rasanya hati ini tidak terintimidasi dengan perkataan orang lain, karena aku merasa diterima disini. Jalan ini serasa sangat indah dan membuat ketagihan datang kesini. Jalan apakah itu? Jalan Jones namanya

1425084711-picsay

Jalan Jones ini salah satu jalan di kota Penang. Aku rasa jalan ini berpeluang untuk jadi salah satu objek wisata baru di Penang, khusus buat jones-jones yang sering terintimidasi atau tak kunjung mendapat pasangan. Disini jones akan merasa diterima dan akan mendapatkan semangat baru. Moga gubernur Penang bisa baca postinganku ini, supaya bisa dipertimbangkan untuk menjadi objek wisata baru ini jalan.

Jangan ngaku udah ke Penang, kalo belum datang dan foto di jalan ini :D
Yang mau tau alamat lengkapnya di mana ato posisinya bisa di cek di Google maps ini:
https://www.google.com/maps/place/Jalan+Jones,+Georgetown,+10250+Pulau+Pinang,+Malaysia/data=!4m2!3m1!1s0x304ac3a815b3ee1d:0x88964b961e1ddce7?sa=X&ei=XCjxVMrAHc3iuQTLzoKADQ&ved=0CB0Q8gEwAA

Yap, itulah hal-hal yang baru yang aku dapatkan di kota Penang. Moga kita semua bisa mengambil pelajaran yang baik dari sini. Tak perlu menjelek-jelekkan Indonesia secara berlebihan. Yang penting kita belajar dan mengubah Indonesia bisa lebih baik lagi.

Daa :)