Review Buku “Facing Your Giants”


Judul : Facing Your Giants
Penulis : Max Lucado
Penerbit : Gloria Graffa
Tahun Terbit : 2006
Tebal : 255 Halaman

“Goliat anda tidak membawa pedang atau perisai; ia mengacungkan pisau pengangguran, pengasingan, penganiayaan seksual, atau depresi. Raksasa Anda tidak berjalan-jalan naik-turun bukit-bukit Tarbantin; ia melompat-lompat melalui kantor, tempat tidu, kelas Anda. Ia membawa tagihan yang tidak dapat Anda bayar, kenaikan tingkat yang tidak dapat Anda raih, orang-orang yang tidak dapat Anda puaskan, wiski yang tidak dapat Anda tinggalkan, pornografi yang tidak dapat Anda tolak, karier yang tidak dapat Anda hindari, masa lalu yang tidak dapat Anda hapus, dan masa depan yang tidak dapat Anda hadapi.” (hal 14)

Ya memang di zaman sekarang ini, kita tidak lagi menemukan manusia bertubuh raksasa layaknya Goliat (tingginya 2,97 meter). Tapi rasa takut, rasa tidak mampu, rasa putus asa, rasa kesepian, rasa ingin mengakhiri hidup, yang sama seperti Goliat, seperti raksasa yang terus memburu dan mengejek kita, melemahkan kita, mungkin masih kita rasakan hingga saat ini. Raksasa yang kita hadapi serasa tak mungkin untuk dikalahkan dan ditaklukan, sama seperti Daud yang kelihatan sangat mustahil dapat mengalahkan Goliat dengan hanya mengandalkan umban batu saja. Tapi Daud dapat menaklukkannya. Apa rahasianya?

Buku ini membukakan perspektif yang seharusnya bagaimana kita memandang setiap raksasa yang ada dalam hidup kita. Dengan contoh dan pengalaman penulis, kita jadi lebih gampang untuk merefleksikan dan memposisikan diri kita sebagai orang yang sedang menghadapi raksasa besar.

Anda malu dengan kegagalan-kegagalan yang anda alami saat melawan raksasa-raksasa dalam hidup? Penulis melalui buku ini, mampu membuat saya bisa menerima diri sendiri apa adanya, tanpa saya harus dihakimi atas kegagalan dan kesalahan saya yang sering kali ke dalam satu lubang kesalahan yang sama, yang sangat sulit untuk saya taklukan. Melalui buku ini, saya juga mengerti bahwa memiliki kesalahan ataupun kegagalan yang dalam hal ini digambarkan sebagai raksasa bukanlah suatu hal yang hanya saya alami sendiri saja. Semua orang pun punya raksasa masing-masing dalam hidupnya, bahkan seorang tokoh Alkitab sekaliber Daud yang kisah dan mazmurnya masih terus mengagumkan hingga kini. Oleh karena itu saya lepas dari rasa tertekan, karena ternyata ada banyak orang merasakan hal yang sama.

Perjalanan seorang Daud, tak berhenti hanya saat dia berhasil mengalahkan Goliat. Tapi raksasa yang menakutkan terus bermunculan mulai dari dia dikejar-kejar oleh Saul untuk dibunuh, saat dia jatuh ke dalam dosa perzinahan dan juga disaat dia memiliki konflik dengan keluarganya sampai-sampai anak kandungnya sendiri ingin mengkudeta dan. membunuhnya. Walaupun kisah Daud ini sudah beribu tahun yang lalu, namun penulis mampu menggali dan menjelaskan dengan baik hingga tetap relevan dengan kondisi dan permasalahan yang kita alami di hidup kita dalam zaman ini.

Jadi apakah anda sedang mempunyai raksasa dalam hidup anda?

Anda sedang dikejar-kejar oleh rasa bersalah, rasa gagal, rasa emosi, rasa depresi atau rasa-rasa yang ingin membuat anda cepat-cepat meninggalkan dunia ini karena serasa tak akan mungkin untuk mengatasinya?

Mungkin buku ini bisa membantu anda untuk memperoleh kemenangan atas raksasa anda dalam hidup sehari-hari :)

Gbu :)

buku ini dapat dipesan disini:

http://www.bukurohanigloria.com/product/view/212/facing_your_giants.html#.VPc1fS4YNf0

Dokter dan Sistem Pendukung Keputusan (Pengalaman di Penang Part-2)


Aku baru saja pulang dari Penang, karena menemani mamakku check up. Ada beberapa bagian tubuh mamakku yang dirasakan kurang baik selama ini, sehingga mamak mau check up memastikan apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuhnya. Dan salah satunya bagian hidung dan telinga mamak yang di cek.

Kami pun pergi ke dokter THT di rumah sakit Gleneagles Penang. Berkonsultasi dengan kerabat yang membantu kami selama disana (Bi Ruth Ginting dan Kak Sarce Sopamena) akhirnya kami diarahkan untuk menjumpai dr Palaniappan, dokter spesialis THT.

Segera kami mengatur jadwal bertemu dengan dokter di bagian bawah rumah sakit. Setelah mendaftar, kami bergegas ke lantai tempat ruangan dokter berada.

Ternyata tidak banyak yang mengantri untuk berjumpa dengan dokter, sehingga kami pun bisa cepat jumpa dengan dokter.

Masuk ke dalam ruangannya, kami mendapati dokter yang berada di depan laptopnya yang sudah kelihatan “berumur” atau lama. Juga kami dapati perawat di dalam, juga di depan computer, tapi komputernya lebih canggih dari laptop pak dokter. *dari mataku memandang ya :D.

Dipersilahkan duduk, mamakku pun mulai bercerita tentang apa yang dirasakannya dan disinilah kegunaan laptop akhirnya tersingkap.

Kupikir laptop ini hanya digunakan dokter untuk internetan saja. Ternyata pada waktu mamak menyampaikan keluhan, dokter selalu mengetik sesuatu di laptopnya. Cukup lama dokter mengetikkan sesuatu hingga akhirnya mamak diperiksa secara fisik. Aku pun tiba dalam satu kesimpulan, bahwa yang digunakan dokter itu adalah sebuah software Sistem Pendukung Keputusan.

Memang aku tidak melihat langsung softwarenya, karena seganlah, masak aku pergi ke samping dokter untuk melihat-lihat apa yang diketiknya. Nanti malah dikiranya aku mau minjam laptopnya untuk kupakai main games. Memang pengen pinjam juga sih, soalnya udah lama gak main game karena laptopku sedang rusak -___-. Ehh, tapi bukan itu poinnya. Jadi walaupun aku belum melihat langsung softwarenya tapi aku menduga itu Sistem Pendukung Keputusan.

Apa itu Sistem Pendukung Keputusan?

Sistem Pendukung Keputusan atau yang sering disingkat di kampus kami SPK adalah bagian dari sistem informasi berbasis komputer (termasuk sistem berbasis pengetahuan (manajemen pengetahuan)) yang dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan dalam suatu organisasi atau perusahaan. (wikipedia)

Jadi SPK yang di gunakan si dokter akan memudahkan dia untuk mengambil keputusan, apa sebenarnya yang terjadi dalam tubuh mamakku. Walaupun tidak digunakan sebagai keputusan mutlak, tapi setidaknya itu bisa menjadi bahan perbandingan antara kesimpulan diagnosis dokter dan yang SPK simpulkan.

Apa yang kita pelajari dari sini?

Dokter butuh software yang bisa membantu dia dalam mendiagnosis penyakit pasien. Siapa yang bisa membuat software itu? Ya pasti mahasiswa dan lulusan Ilmu Komputer lah.

Disini saya mau kembali mengajak teman-teman yang sedang membuat skripsi dan tugas akhir untuk membuat penelitian yang berdaya guna dan kalau bisa aplikatif. Karena memang secara fakta itu sangat dibutuhkan dalam berbagai bidang, salah satu contohnya adalah kedokteran ini. Dengan tingkat keakuratan yang tinggi yang kita percaya itu bisa terealisasi dengan penelitian yang serius, maka setiap peelitian yang anak Ilmu Komputer lakukan bisa “sangat” berdampak terhadap hidup seseorang.

Mengapa tidak membuat skripsi yang berguna dan berdampak bagi banyak orang?

Semangat pejuang skripsi :)

Sumber gambar:http://i.dailymail.co.uk/i/pix/2013/04/23/article-2313401-19717D6F000005DC-994_468x286.jpg

Apakah Anda Sedang Berada Di Ketinggian?


image

Sumber gambar: http://erik-nac.blogspot.com.

Berada di ketinggian
Membuat sulit mendengar yang dibawah
Berada di ketinggian
Membuat semuanya kelihatan rendah
Berada di ketinggian
Membuat segalanya bisa disuruh seenaknya
Berada di ketinggian
Membuat malas berbuat apa-apa
Berada di ketinggian
Membuat rasanya tidak butuh pertolongan
Berada di ketinggian
Membuat merasa bisa melakukan semuanya
Berada di ketinggian
Membuat ingin semua harus sempurna
Berada di ketinggian
Membuat gampang menghakimi dan menyalahkan
Berada di ketinggian
Membuat semuanya tentangku dapat dimaklumi, sedangkan tentangmu tidak
Berada di ketinggian
Membuat aku sudah puas dan tak mau berusaha lagi
Berada di ketinggian
Membuat jarang berkomunikasi dengan orang di bawah
Berada di ketinggian
Membuat sulit diingatkan dan diajari
Berada di ketinggian
Membuat merasa sudah tahu segalanya
Berada di ketinggian
Membuat lebih gampang terjatuh ke bawah
Berada di ketinggian
Membuat semuanya dianggap remeh

Apakah ada yang sedang berada di ketinggian sekarang?
Mungkin anda dan saya bisa bersama turun sebentar dari ketinggian. :)

Jalan Jones Di Kota Penang (Pengalaman di Penang Part-1)


3 hari berada di kota Penang, ada banyak hal baru dan berbeda dari yang kuketahui di Indonesia. Walaupun ini kali kedua aku ke kota Penang dan keduanya adalah menemani mamakku check up bukan wisata *katanya kalo berobat ke Penang ini termasuk wisata juga lho, wisata medis. Soalnya udah banyak kali orang Indonesia berobat ke Penang ini, sambil jalan-jalan juga kayaknya :D

Sampai di bandara Internasional Penang, sepertinya masih biasa-biasa saja. Karena dimana-mana pun bandara canggih-canggihnya semua. *KualaNamu juga canggih coy :). Barulah saat keluar dari bandara dan di perjalanan menuju rumah sakit, aku melihat banyak hal yang baru.

Dari segi ketertiban berkendara, disini semua pengendara sangat tertib mengikuti aturan berkendara serta rambu lalu lintas. Kalo berhenti ya berhenti, maju ya maju. Tidak ada yang menyerobot. Jadinya perjalanan terasa aman *kalo masalah macet, walaupun disini semua sudah taat peraturan, tapi di saat jam sibuk tetap macet, karena mungkin semua kendaraan sudah keluar. Beda dengan kampungku, kalo lampu merah jalan, lampu hijau berhenti :D

sumber : http://wongchunwai.com/images/stories/metd_az_0709_WCW10_jalan%20jelutong.JPG

Kebersihan disini juga sangat baik. Hampir jarang aku melihat sampah bertumpuk atau berserakan di tepi dan tengah jalan. Setiap jalan ada tempat sampah dan tanda peringatan “Ketahuan Buang Sampah Sembarangan Didenda RM 500” atau senilai Rp 1.750.000. Jadinya jalanan bersih dan sah ini jadi luar negeri. Sebenarnya kalo kulihat, Penang dengan Medan gak jauh bedanya, mirip-mirip. Tapi yang paling membedakan adalah kebersihannya. Kalo di kampungku, kalo buang sampah pada tempatnya malah yang didenda. Didenda dengan rasa sedih karena dibilang “Sok baik kali pun” :D

sumber: https://lh6.googleusercontent.com/-VHeVgAHWPnI/VEXweWunFNI/AAAAAAAAAAw/uz1pBt5b1d0/s250-c-k-no/Toko%2BGerbang

Yang berbeda lagi kulihat adalah dari segi teknologi. Pernah aku mau beli air mineral di sebuah took kelontong. Kalo nengok tokonya, ya sama aja macam took di Medan ini kulihat. Ada ibu-ibu yang jaga ditemani orang tuanya yang lagi duduk di sekitar tumpukan beras. Persis samalah macam took kelontong disini. Gerbangnya juga gerbang biasa, macam gerbang rumahku. Tapi yang berbeda adalah, saat aku mau masuk ke toko itu gerbangnya tertutup, dan tidak ada dari ibu-ibu tersebut yang mau membukanya. Bah gak dianggap aku jadi pelanggan bah pikirku *sing: Sebagai pelanggan yang tak dianggap aku hanya bisa, mencoba bersabar.. Pelanggan Yang Tidak Dianggap by Pingkan Mambo. Tenyata aku salah sangka. Rupanya gerbangnya terbuka secara otomatis, karena sudah dipasang teknologi untuk membuka tutup sendiri saat sensor menangkap ada yang mau masuk ke dalam. Kalo di Medan, yang begini-begini cuma ada di mall. Jadi di Penang ini atau di Malaysia lah kubilang mungkin, teknologi sangat dipergunakan di berbagai tempat.

Ya masih ada banyak hal yang berbeda kudapatkan di kota Penang ini. Tetapi ada satu hal yang paling baru dan berbeda, yang kudapatkan di kota Penang ini. Apakah itu?

Ada satu nama jalan yang aku lihat di dekat penginapan kami, yang berbeda dengan jalan lainnya. Jalan ini sangat sepi dan jarang kulihat orang lewat. Saat aku berjalan di jalan ini, rasanya tenang sekali karena mewakili apa yang sedang aku rasakan. Rasanya hati ini tidak terintimidasi dengan perkataan orang lain, karena aku merasa diterima disini. Jalan ini serasa sangat indah dan membuat ketagihan datang kesini. Jalan apakah itu? Jalan Jones namanya

1425084711-picsay

Jalan Jones ini salah satu jalan di kota Penang. Aku rasa jalan ini berpeluang untuk jadi salah satu objek wisata baru di Penang, khusus buat jones-jones yang sering terintimidasi atau tak kunjung mendapat pasangan. Disini jones akan merasa diterima dan akan mendapatkan semangat baru. Moga gubernur Penang bisa baca postinganku ini, supaya bisa dipertimbangkan untuk menjadi objek wisata baru ini jalan.

Jangan ngaku udah ke Penang, kalo belum datang dan foto di jalan ini :D
Yang mau tau alamat lengkapnya di mana ato posisinya bisa di cek di Google maps ini:

https://www.google.com/maps/place/Jalan+Jones,+Georgetown,+10250+Pulau+Pinang,+Malaysia/data=!4m2!3m1!1s0x304ac3a815b3ee1d:0x88964b961e1ddce7?sa=X&ei=XCjxVMrAHc3iuQTLzoKADQ&ved=0CB0Q8gEwAA

Yap, itulah hal-hal yang baru yang aku dapatkan di kota Penang. Moga kita semua bisa mengambil pelajaran yang baik dari sini. Tak perlu menjelek-jelekkan Indonesia secara berlebihan. Yang penting kita belajar dan mengubah Indonesia bisa lebih baik lagi.

Daa :)

Auditorium USU Sudah Mantap, Tapi…


image

Gedung udah mantap.
Dengan warna hijau yang mendominasi serta perbaikan yang telah dilakukan beberapa waktu yang lalu, sekarang Auditorium USU kelihatan lebih megah.
Wisudawan dan wisudawati yang ada di dalam pun bisa menikmati proses wisuda dengan nyaman.

Di luar, lapangan parkir dan pelataran Auditorium sudah dibuat lebih lebar. Jadinya keluarga dan kerabat yang menunggu wisudawan/ti keluar tidak sepadat dulu lagi.

Lampu-lampu ada banyak di sekitaran Auditorium USU ini. Kalo malam semakin indah disini, apalagi bagi yang pacaran. :D

Namun ada yang kurang aku rasakan disini.
Kurang banyak tempat sampah.

image

image

image

Aku tadi makan jeruk, tapi setelah selesai mengupas, bingung mau buang dimana.
Sayang sekali Auditorium kebanggaan kita berdiri begitu megah dan indah, tapi sekitarannya kotor dengan sampah.
Kalo boleh untuk bapak/ibu pihak rektorat, bisa menambah tempat sampah lebih banyak lagi, kalo bisa tiap 10 meter 1 tempat sampah.
Biar betul-betul tercapai USU Asri yang kita impikan itu :)

*ahh, dibuat pun tempat sampah pasti buang sembarangan orang
Nah, buat dululah tempat sampahnya, lalu dibuat gerakan buang sampah pada tempatnya.
Ini tempat buang sampah pun tak ada, ya buang di jalanlah jadinya.

Selamat Wisuda untuk teman-temanku:
Fellix Derico ST
Dian Marisa Sitinjak S.Si
Samuel Tarigan S.Kom
Jhonri Sibarani S.Kom
Rio Auditya S.Kom
Fiktaruddin S.Kom
Ismael Fata Lubis S.Kom
Helen Sihotang S.Kom
Noviyanti Sagala S.Kom
Loren Oliver Barus S.Kom
Timothy Aja S.Kom
Janwandi Sinaga S.Kom
Lia Susanti Simanjuntak S.Psi
Mardi Sirait SE
Octa Manurung SP

Selamat datang di dunia alumni :)

Kendala Utama “Pejuang Skripsi”


Seringkali yang menjadi permasalahan utama dari mahasiswa tingkat akhir yang sedang mengerjakan skripsi, bukanlah ketidaktahuan dan ketidakmengertian atas skripsi yang dikerjakan. Ataupun permasalahan kekurangan bahan referensi ataupun bahan penelitian. Tapi yang jadi permasalahan utama seringkali adalah kemalasan, ketakutan dan putus asa dalam diri sendiri. Setidaknya itu yang aku dapat dari diriku sendiri saat mengerjakan skripsi. Juga dari teman-temanku yang pernah aku bantu dalam proses pengerjaan skripsinya.

Seringkali bahan penelitian sudah ada. Seringkali referensi juga ada. Tapi kenapa ya enggan untuk menyentuhnya?

Mungkin juga bahan penelitian belum dapat. Referensi juga masih kurang. Tapi kenapa ya malah jadi malas mencarinya?

Skripsi sudah dikerjakan. Dan saat dibawa ke dosen, malah banyak revisi. Padahal kita sudah yakin dengan draft kita. Jadinya malas bimbingan lagi. Mungkin juga kena marah habis-habisan, jadinya takut ah bimbingan sama bapak/ibu itu lagi.

Atau mungkin saat bimbingan dan juga seminar, revisinya tidak sulit-sulit amat. Tapi kenapa ya kita memilih untuk “istirahat dulu ah” dan menundanya sampai akhirnya melewatkan banyak waktu?

Apakah anda merasakannya?

Kalo aku ya.

Dari pengalaman diriku sendiri dan akhirnya dari pengalaman beberapa temanku yang aku pernah bercerita dengan mereka, aku mendapati bahwa ini adalah permasalahan yang tidak bisa ditanggung sendiri oleh si mahasiswa.

Seringkali saat kita putus asa, kita butuh orang lain bisa membantu kita melihat bahwa masih ada harapan dan hal-hal yang bisa dikerjakan bersama

Saat kita malas, kita butuh orang lain bisa membantu kita mengingatkan akan orang tua kita yang telah bekerja agar kita kuliah dan juga mengingatkan akan dampak bila kita tidak segera menyelesaikan skripsi

Saat kita takut, kita butuh orang lain yang bersedia menemani kita dan tetap bersama kita saat kita merasa tidak sanggup rasanya mengalahkan ketakutan itu. Kita butuh orang yang meyakinkan, bahwa kita bisa.

Kita butuh penolong-penolong di sekitar kita.

Ya mungkin saja, ada beberapa orang yang memang bisa berusaha sendiri dan selalu punya semangat. Tetapi sebagai manusia yang memang tercipta sebagai mahluk sosial, mau tidak mau kita memang membutuhkan orang lain. Dan ada satu titik nanti di saat kita sama sekali tidak bisa menyelesaikan permasalahan itu sendiri. Kita butuh bantuan teman kita.

Dan yang terutama kita tentu membutuhkan penolong yang paling bisa diandalkan.

Ya Dia adalah sang Pencipta kita. Dia berotoritas atas semua yang terjadi dalam hidup kita, karena Dialah pencipta semuanya dan Dialah penguasanya. Dia mampu menyelesaikan setiap masalah yang kita punya, karena Dialah sang Maha Kuasa.

Teman-teman kita juga punya keterbatasan. Mungkin dari segi waktu dan pemikiran tidak selamanya kita dapat dibantu. Tapi ya, Tuhan kita selalu punya waktu bagi kita. Punya waktu mendengar keluhan dan kesusahan kita dan punya waktu untuk menunjukkan kuasa-Nya. Biarkan Dia menunjukkan bahwa Dia adalah Tuhan yang ajaib dan luar biasa, bekerja dalam hidup kita.

Ambil waktu sejenak, jika mungkin pada saat ini kita sedang malas, sedang takut, sedang putus asa dalam pengerjaan skripsi kita. Ambil waktu berdoa kepada Tuhan, dimana saja. Apakah di depan laptop apakah di tempat tidur. Tutup mata sebentar, dan berbicaralah kepada Tuhan, sampaikan pada-Nya bahwa kita takut, kita malas, kita putus asa, kita tidak tahu mau mengerjakan apa, kita tidak sanggup menghadapi masalah-masalah ini. Jujurlah di hadapan Tuhan, dan biar Dia yang bekerja dengan kuasa-Nya. Mari nantikan kuasa-Nya :)

Setelah itu mari kita pikirkan siapa kira-kira orang yang dapat membantu kita dalam proses skripsi ini. Apakah itu sahabat yang kita percaya, teman yang kita sering bersama, pacar atau keluarga. Sampaikan saja kepada mereka untuk bisa membantu kita. Mungkin pacar atau keluarga bukanlah orang yang mengerti dengan skripsi kita, karena mereka tidak sebidang dengan kita. Tapi tidak apa-apa semangat dan kehadiran mereka bisa sangat membantu kita.

Jangan malu meminta bantuan orang lain. Memang kita mahluk sosial yang gak bisa hidup sendiri, ya mau bagaimana lagi? Ya memang harus saling membantu kita :)

Ya itulah beberapa hal yang aku pikirkan. Kalau ada yang mau kasi tanggapan, silahkan ditulis komentar. Biar kita punya pemikiran yang semakin luas :)

Semangat dalam pengerjaan skripsinya

Abangku bang Ijong (bg Octavianus Sianturi, dkk)
Teman-temanku (Septian Dcp, Septian Maihadi, Reza, Adi, Rizky dan 2009 lainnya)
Adek-adekku (Hengky, Rivai, Johannes, Yansen, Sunfirst, Westhy dan 2010 lainnya, Mey, Winda, Anandhini, Vera, Satya, dan 2011 lainnya)

Semangat Pejuang Skripsi:)

Ada Apa Dengan Cita-citata (Goyang Dumang)


image

Ada yang pernah dengar lagu yang enak di telinga?
Dan akhirnya berniat mendownload lagu itu?
Mungkin kamu sedang bernasib dengan aku.

Akhirnya aku mengakui bahwa lagu cita-citata yang kedua ini memang enak di dengar.
Pertama x aku dengar lagu ini dari ponakanku si Kezia. Di hape bapaknya ada lagu goyang dumang, tapi aku gak pernah dengarkan.
Tapi suatu saat kezia, asal lewat kamarku selalu nyanyi dengan lirik:

Sakit rasanya putus cinta
Sesaknya di dada
Membuat kita jadi gegana
Gelisah Galau Merana

Biasa aja sih dengarnya. Mungkin karena gak cita citata langsung yang nyanyi di depan kamarku, makanya gak jelas :D
Dan memang ponakanku asal lewat kamarku nyanyinya sampe situ aja terus liriknya, gak pernah sampe full.
Ntahlah karena dia sukanya di bagian itu aja, ato memang cuma itu yg dihapalnya :D
Lagian liriknya juga kayaknya galau2 gak jelas.
Apa pulak arti gegana ini kupikir.
Gelisah galau merana rupanya :D

Lalulah setelah semakin sering kudengar lagu goyang dumang ini diputar dimana-mana, aku merasa, kok enak lagu ini ya?
Jadinya pengen dengar terus. :D

Kalo aku sih ngerasa, cara nyanyi si citata ini gak terlalu banyak cengkoknya. Makanya dia nyanyi gak terlalu seperti dangdut dibuat. Sama seperti lagunya yang pertama “Sakitnya tuh disini”
Aku sebenarnya gak terlalu suka sama lagu dangdut.
Tapi karena lagunya ini enak di dengar dan simpel, aku jadi suka dengarnya.
Tinggal jogetnya sih aku gak pernah.
Katanya sih filosofinya lagi ini, goyang duyung mangap. Jadi goyang sambil mangap.
Aku memang sering sih mangap. Tapi itu kalo lagi terpesona. Cemanalah awak terpesona sambil goyang?
:D

Yaah. Emang kalo enak, gak bisa bilang apa ya. Walaupun itu lagu dangdut, tapi enak di dengar?
Kenapa tidak.
Download terus :D

http://m.youtube.com/watch?v=1opp3AiTGdU