Bahaya Cyberbullying Setelah Bullying di Dunia Nyata Terjadi


 

Beberapa waktu yang lalu, netizen ramai membahas tentang kejadian bullying yang dialami oleh salah seorang mahasiswa yang berkebutuhan khusus. Dia didorong-dorong dan dipermainkan begitu saja oleh temannya secara bergantian hingga hampir terjatuh. Ada banyak juga mahasiswa yang melihat kejadian itu, tapi semuanya hanya melihat begitu saja.

Beberapa hari kemudian, muncul lagi video bullying di dunia maya dan kali ini yang dibully adalah seorang siswi SMP. Terlihat pada video, dia dijambak oleh seorang siswi SMP juga sampai terjadi. Belakangan diketahui bahwa ternyata mereka telah berteman dari SD dan sempat punya satu geng yang sama. Tindakan bullying ini awalnya terjadi karena siswi yang menjadi korban tersebut dianggap sombong karena tidak pernah datang ke tempat main teman satu gengnya tersebut. Akhirnya mereka mengajaknya duel yang akhirnya berujung pada bullying.

Saat ini, pelaku dari masing-masing tindak bullying sudah diberikan sanksi oleh pihak universitas dan sekolah atas perilaku mereka. Namun apakah tindakan bullying berhenti saat hukuman telah diberikan kepada mereka? Ternyata tidak. Malah kemungkinan besar, yang saat ini menjadi pelaku bisa menjadi korban bullying selanjutnya. Itu karena bullying juga terjadi di dunia maya dengan istilah yang sering disebut cyberbullying.

Pertama sekali saat saya membaca berita tentang bullying ini, diakhir dikatakanΒ  bahwa akun media sosial beberapa pelaku bullying sudah dikunci. Ini merupakan bukti bahwa cyberbullying merupakan suatu hal yang langsung terjadi, khususnya bila masalah seperti ini muncul di dunia maya.

Cyberbullying itu ibarat main hakim sendiri di dunia maya. Para netizen seolah-olah memberikan hukuman terhadap orang yang sudah berbuat salah dan para netizen merasa pantas melakukan itu. Bebasnya pembuatan akun yang sifatnya anonim juga semakin membuat netizen bebas melakukan cyberbullying, toh bakalan tidak ada yang tahu identitas pribadinya.

Melakukan cyberbullying adalah hal yang mudah. Cukup memberikan komentar negatif yang sifatnya menjatuhkan orang yang dikomentari. Oleh karena itu sering pula netizen tidak sadar bahwa dirinya sedang melakukan cyberbullying. Apakah Anda pernah melakukan atau suka melakukan cyberbullying? Atau secara tidak sadar melakukannya, karena menganggap hal itu adalah hal biasa.

Di masa ini dan kedepannya, dunia akan dipenuhi oleh generasi yang dinamakan generasi Z. Generasi ini adalah sebuah generasi yang akrab dengan gadget dan segala hal yang ada dalam dunia maya. Oleh karena itu, edukasi penggunaan media sosial yang sehat terlebih memberikan komentar yang sehat perlu diajarkan oleh orangtua kepada para anak-anaknya. Karena biasanya orangtua hanya waspada pada bullying yang terjadi dalam lingkungan sehari-hari. Padahal sebenarnya, bullying juga terjadi di dunia maya dan itu juga memerlukan perhatian yang sama besar dengan bullying di dunia nyata. Karena sesungguhnya dampak yang dirasakan oleh korban bullying dan cyberbullying itu sama.

 

Matt dan Elektra


Sudah lama tidak membuat postingan disini. Terlebih karena kemaren sempat ada blog lain yang diurusi. Tapi sekarang blog yang satu itu pun sudah kurang terurus, dan malah aku pegang hal yang lain.

Aku rasa memang aku ada sedikit kelemahan dalam hal konsistensi. aku tertarik melakukan banyak hal yang baru dan yang berbeda dari lainnya. Ide yang kudapat seringkali sangat baik. Tapi ketidakmampuanku untuk konsisten membuat semua hal hanya bertahan sebentar saja setelah itu hilang. Mulai hal yang baru lagi.

Sekarang aku juga sedang bingung bagaimana melanjutkan apa yang sudah aku kerjakan sekarang. Aku terpikir sesuatu, tapi tak begitu yakin apakah itu yang memang harus aku lakukan. Disaat seperti ini aku pikir, senang rasanya bisa menyampaikan hal ini kepada orang lain dan berbicara tentang hal itu. Seringkali ada banyak pertanyaan, keraguan dan kebingungan yang harus dipikirkan sendiri. Tapi selalu saat hanya berpikir sendiri, akhirnya harus kupilih berhenti, karena aku tak tahu apa lagi alasan untuk melanjutkannya.

Tapi siapa yang benar-benar mau mendengar?

Mungkin ada banyak solusi dalam pikiranku, tapi aku pikir aku butuh diyakinkan untuk hal itu. Aku berharap bisa menceritakan dengan bebas hal tersebut tanpa ragu hal itu akan dianggap tidak penting.

Mungkin belum waktunya ada orang yang mau mendengarkan. Memang harus terhenti lagi dalam langkah yang sama, dimana tak mampu melangkah bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak yakin.

Ketika melankolis melanda, maka itu mengambil bagian yang kuat dalam diri ini. Logika berjalan dengan baik, namu perasaan yang fokus pada diri sendiri itu yang lebih kuat. Menerima nasib dengan mengulang-ngulang betapa tidak layaknya, menjadi hal yang terus dilakukan. Dan itu tidak menyenangkan, karena itu berarti akhir perjuangan. Dan aku harus menunggu sampai waktu vakum yang aku tidak tahu, yang mungkin akan lebih cepat saat ada masalah yang terjadi.

Tapi sejujurnya aku tidak tahu itu kapan waktunya.

Mungkin memang baru dinding ini yang bisa diajak meluapkan apa yang dirasakan. Dinding ini memang mendengar, tapi dia tak bisa merespon. Tapi itu lebih baik, daripada hal ini harus selalu dipikirkan sendiri.

Biarlah dinding ini yang memikirkan itu dan tak perlu beritahu aku lagi.

Seven Samurai (1954) – Review Film Indonesia


Review film kali ini adalah tentang seorang veteran samurai yang mengalami kejatuhan besar dalam hidupnya, memenuhi permintaan penduduk sebuah desa untuk melindungi desa mereka. Dia mengumpulkan 6 samurai lainnya, mengajari penduduk desa melakukan strategi bertahan dan mereka diberi makan nasi sebagai bayarannya. Puncak film ini adalah pertarungan mereka dengan 40 bandit.

Adventure, Drama
IMDB Rating : 8.7

Hujan di Senin Pagi Kabanjahe


image

Katanya hujan bisa membuat berbagai memori terulang kembali.
Dan kali ini hujan terjadi di pagi hari di kota Kabanjahe.
Bukan facebook, tapi hujan yang mengingatkanku tentang memori beberapa tahun lalu.
Di saat dimana kalau yang namanya hujan di pagi hari, enak kali kalau tidur.
Tapi yang gak enak itu adalah harus bangun di pagi hari, karena hari senin harus sekolah.

Selalu ada pikiran yang berusaha meyakinkan untuk tidak usah sekolah, lanjutkan saja tidurnya.
Tapi nyatanya, pikiran itu kalah juga dengan teriakan kakakku dari dapur ikut sama bunyi kuali2nya.
Ya harus tetap sekolah.
Tak usah mandilah, yang penting cuci muka dan sikat gigi. Habis sarapan pergi ke sekolah.

Di sekolah, seluruh siswa punya harapan yang sama.
Sama-sama berharap upacara tak dilaksanakan, guru terlambat datang dan rupanya ada rapat dadakan.
Jadinya bisa malas-malasan di kelas.
Tapi sayangnya harapan itu selalu sirna.
Upacara bendera tetap terjadi.
Guru datang tepat waktu, menagih janji. (PR :D)
Dan rapat dadakan tak pernah terjadi.

Di tulis di Sinabung Jaya Raya
November 2016

 

PS:

setelah ku survey dari yang telah komen, sepertinya banyak yang bingung sama posting ini ya πŸ˜€ Gaya bahasaku emang kacau disini :D. Ini sebenarnya sejenis curhatan begitu, bukan puisi πŸ™‚

Inti posting ini sebenarnya adalah tentang mengingat kenangan di kampung halaman. jadi kalau mau komentar, boleh kasi komentar terkait itu ya πŸ™‚

*padahal rencana mau buat postingan yang bagus di sesi terakhir “berbagi dan komentar” yang akan dihapuskan dari jadwal rutin pojok WB. Kapan lagi coba blogku punya kesempatan dikomentari lebih dari 40 orang πŸ™‚

kalau rumah sepi, tiba-tiba ada banyak tamu yang datang, kan senang rasanya kan πŸ™‚

will miss this session, berbagi dan komentar.