KOMPUTER MASYARAKAT:UN DAN SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA


UN DAN SISTEM PENDIDIKAN DI INDONESIA

NAMA : JAKUP GINTING

NIM     : 091401055

UN atau Ujian Nasional merupakan sebuah sistem standar kelulusan bagi siswa-siswa yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Diharapkan dapat memacu semangat murid untuk lebih rajin belajar, UN malah membuat para siswa semakin tidak tenang karena terlalu takut tidak lulus. Akibat ketakutan yang berlebihan,maka para siswa pun mencari berbagai cara agar bisa lulus. Bukannya rajin belajar agar lulus,malah banyak yang ingin mengambil jalan pintas dengan jalan membeli kunci jawaban yang berasal dari joki. Malah yang lebih parah lagi,yang memberikan kunci jawaban itu adalah guru dari siswa itu sendiri. Sungguh menyedihkan,karena guru yang seharusnya memberikan nilai moral dan panutan bagi para muridnya,malah menjadi contoh yang tidak baik.

Banyak siswa yang berharap lulus,tapi tidak mau belajar. Inilah yang menyebabkan banyaknya siswa yang menggunakan jasa joki untuk memperoleh kelulusan. Dan para siswa cenderung mengabaikan pelajaran tahun pertama dan tahun kedua saat masih SMA. Mereka menganggap pelajaran-pelajaran disitu tidaklah penting. Akhirnya pada tahun ketiga atau tahun terakhir sekolah mereka mendapat imbasnya,karena soal-soal UN tidak hanya berasal dari soal 3,tapi juga dari soal kelas 1 dan 2. Jadi mereka dituntut utk menguasai kembali pelajaran kelas 1 dan 2.Padahal sebenarnya di kelas 3 diharapkan siswa hanya akan mengulang kembali pelajaran kelas 1 dan 2,bukan mempelajari dari awal. Jadinya terkesan terlambat start. Guru-guru yang membocorkan soal ujian dan kunci jawaban, juga memiliki alasan kenapa sampai mau melakukan hal tersebut. Guru-guru berharap dengan diberikannya bocoran soal dan kunci jawaban maka seluruh siswa pada sekolah itu akan lulus,dan dapat menjaga nama baik sekolah. Tapi apakah kelulusan semua siswa itu menjamin kalau sekolah itu mempunyai mutu yang baik? Dan beberapa bulan yang lalu terdengar kabar bahwa UN akan menjadi standar untuk para siswa yang ingin melanjut ke jenjang perkuliahan. Maka semakin buruklah putra Indonesia ke depannya,apabila rata-rata yang lulus UN bukan karena hasilnya sendiri,tapi karena bantuan orang lain.

Ada berita lain pada saat pengumuman kelulusan UN april lalu. Banyak siswa yang tidak lulus yang karena syok dan merasa malu akhirnya mengakhiri hidupnya dengan jalan bunuh diri. Kenapa ini bisa terjadi? Mereka lebih memilih jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya. Padahal sebenarnya si siswa masih bisa mengikuti ujian paket C nantinya. Rasa malu karena teman-teman yang lain lulus sedangkan dia tidak,merupakan faktor penting dari tindakan bunuh diri ini. Tidak hanya kasus bunuh diri,tapi ada juga siswa yang setelah mengetahui dirinya tidak lulus,tidak mau lagi mengikuti ujian paket c ataupun mengulang selama setahun. Jadi UN yang diharapkan dapat mencerdaskan anak bangsa,malahan membuat bertambah banyaknya anak yang putus sekolah.

Mari kita bandingkan dengan beberapa negara yang juga memakai sistem UN dan yang tidak. Negara yang masih memakai sistem UN dalam penentuan kelulusannya adalah Malaysia, Singapura dan China. Memang di negara ini juga tak bisa dihindari bahwa semakin banyak juga tingkat putus sekolah yang diakibatkan oleh sistem UN ini. Tapi ada satu hal yang bisa kita jadikan contoh yang baik. Kita ambil negara malaysia. Di negara ini pemerintahnya sangat memperhatikan masalah pendidikan. Cara perekrutan tenaga pengajarnya pun sangat ketat dan sistematis. Tenaga pengajar harus berasal dari universitas yang memang dikhususkan untuk para guru. Jadi diharapkan tenaga pengajar yang dihasilkan merupakan orang-orang yang betul-betul berkompeten di bidang pendidikan. Tapi ketatnya sistem penerimaan tenaga pengajar juga sejalan dengan gaji yang mereka terima. Pemerintah Malaysia memberikan gaji yang besar bagi para guru,belum termasuk tunjangan-tunjangan yang lainnya. Ketatnya perhatian pemerintah Malaysia terhadap sistem pendidikan mereka juga dapat diukur dari tidak hanya dalam pembangunan fisik pendidikan mereka saja, tetapi dari banyaknya perubahan-perubahan sistem yang mereka lakukan, dan perubahan tersebut selalu berdampak positif bagi manajemen sistem pendidikan mereka juga.

Inilah yang membuat mereka sukses dalam mendidik anak bangsanya.

Nah,negara lain yang akan kita bandingkan adalah negara yang tidak memakai sistem UN seperti Australia dan Amerika Serikat. Kelulusan siswa di Amerika tidak ditentukan dengan Ujian Nasional seperti di Indonesia tapi melalui hasil tes dan produk yang dipresentasikan siswa di depan kelas. Yang melakukan penilaian pun adalah orang-orang yang memiliki status profesional dalam bidang pendidikan, sehingga SDM yang diharapkan sesuai target lembaga tersebut untuk dinyatakan lulus. Dalam hal perekrutan tenaga pengajarnya pemerintah Amerika serikat mengharuskan tenaga pengajar berpendidikan minimal sarjana (S1) dan memiliki sertifikat profesional mengajar dari lembaga yang meluluskannya (sarjana), sehingga kompetensi pendidik termonitor dengan jelas. Mungkin di Indonesia syarat seperti itu disebut dengan sarjana pendidikan yang memiliki akta empat (IV), sebenarnya Indonesia sudah mengadopsi sistem tersebut, namun penekanannya sangat kurang sekali dengan alasan yang tidak terlalu mendasar yaitu memperkecil peluang pengangguran bagi lulusan sekolah atau universitas. Hal ini terbukti dengan adanya guru yang lulusan SMA/MA, guru Honor atau guru kontrak yang tidak memiliki sertifikat profesi mengajar. Jadi siswa-siswa yang dididik pun tidak akan maksimal,karena yang menjadi guru tidak memiliki keahlian mengajar seperti guru secara umumnya. Juga ditambah dengan banyaknya sistem perekrutan guru yang masih bersifat nepotisme atau kekeluargaan dan bukan profesionalisme kerja. Jumlah guru memang menjadi kendala di Amerika Serikat, namun hal itu tidak mengurangi tingkat kualitas SDM negara adidaya tersebut. Namun lembaga tetap konsisten mengharuskan pendidiknya memiliki sertifikat profesi mengajar, tidak hanya pada bukti sertifikat profesi mengajar saja, seorang guru harus mendapatkan sertifikasi yang diberikan oleh Nasional Board of Profesional Teaching Standard, sehingga guru dipastikan mengetahui cara mengajar dengan baik. Saat ini sudah diterapkan di Indonesia, yang jadi permasalahan adalah syarat untuk mendapatkan sertifikasi perlu ditinjau kembali. Karena beberapa syarat sertifikasi banyak mengarah ke sistem bisnis, seperti sertifikat seminar yang harus dimiliki. Hal ini banyak menciptakan komunitas pelaksana seminar yang targetnya bisa menjual banyak sertifikat berkedok kegiatan.

Nah dalam masalah ini saya termasuk dalam pihak kontra dalam adanya sistem standar kelulusan Ujian Nasional ini. Bila saya berada di posisi menteri pendidikan saat ini,maka saya akan menghapuskan sistem kelulusan ini dan mengganti dengan sistem yang lain,yang lebih baik atau paling tidak memodifikasi sistem standarisasi ini. Karena menurut saya keahlian seorang siswa untuk dapat melanjutkan pendidikannya tidak bisa hanya dipandang dari 6 pelajaran saja atau disebut juga aspek konigtif. Banyak aspek yang masih mungkin menentukan mampu atau tidaknya

murid tersebut melanjut ke jenjang perkuliahan, seperti aspek afektif dan psikomotorik. Ada

beberapa berita yang mengabarkan bahwa ada siswa di indonesia yang sebelumnya telah lulus tes di perguruan tinggi negeri ,malah tidak lulus UN. Padahal tes masuk perguruan tinggi sengaja dibuat tingkat kesukarannya diatas UN.

Dari sisi siswanya juga harus juga turut diperhatikan. Banyak siswa yang berharap bisa lulus

UN tapi sama sekali tidak pernah belajar untuk ujian tersebut. Apa gunanya?Banyak siswa yang menganggap sekolah hanya formalitas,ajang untuk mencari teman, ataupun sekedar ikut-ikutan saja. Padahal pemikiran seperti ini akan merugikan mereka sendiri,karena seharusnya mereka bersekolah untuk masa depan mereka. Pemikiran yang seperti inilah yang perlu ditanam pada siswa-siswa ari sekarang,agar keinginan mereka untuk belajar bukanlah suatu keterpaksaan tapi lebih kepada keinginan untuk maju yang datang dari diri sendiri. Selain itu sekolah dan juga cara belajarnya harus dirancang dengan baik,agar sekolah tidak terkesan membosankan bagi siswa. Saat sekarang ini banyak yang merasa tidak menarik untuk belajar,dan saat proses belajar mengajar pun hanya masuk dari kuping kiri,keluar dari kuping kanan. Jadinya banyak siswa yang malas sekolah atau bolos dari jam mata pelajaran.

Yang terakhir adalah dari segi tenaga pengajarnya. Masih banyak sekali tindak nepotisme dalam perekrutannya. Banyak juga guru yang karena memang bukan merupakan panggilan hatinya yang membuat dia menjadi seorang guru. Alhasil,saat mengajar nantinya pun dia tidak akan fokus,dan terkesan cuek saat mengajar. Ditambah dengan gaji guru yang masih terkira pas-pasan (dalam lingkup PNS) sehingga banyak juga guru yang mencari alternatif pekerjaan untuk menambah pemasukan,sehingga fokusnya menjadi 2,yaitu antara mengajar dan mencari uang. Bagaimana siswa yang diajarkan bisa mengerti tentang pelajarannya,bila si guru sendiri pun jarang datang memberikan materi da pengajaran pada siswa.

Jadi diharapkan banyak dibuat sistem pendidikan yang lebih berkualitas,sehingga anak bangsa yang dididik pun memiliki sebuah bekal yang cukup untuk nantinya bisa bersaingan dalam skala nasional maupun internasional. Juga agar tingkat pengangguran di Indonesia bisa dikurangi sehingga dapat lebih memakmurkan rakyat Indonesia.

Sumber:

http://hendiburahman.wordpress.com/2010/05/25/belajar-dari-amerika/

http://nurulfikri.sch.id/index.php?option=com_content&view=article&id=172:mengintip-sistem-pendidikan-malaysia&catid=47:pendidikan&Itemid=137

http://megapolitan.kompas.com/read/2010/04/28/08461180/Duh..Tak.Lulus.UN.Bunuh.Diri

http://www.infojambi.com/v.1/pend-budaya-a-agama/10032-potret-buram-pelaksanaan-un-di-jambi-guru-pun-ikut-bocorkan-jawaban.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s