Sebuah Apresiasi Untuk Para Pengantar


Para pengantar?
Siapa mereka?

Beberapa hari lalu, aku diantar pulang oleh rekan satu tim di paskah alumni dan mahasiswa.
Ini bukan pengalaman pertama aku diantar.
Aku yang pecinta angkot ini memang sering kehabisan angkot kalo sudah malam, jadinya harus minta tolong diantar pulang. Kebanyakan ngantar pake kereta a.k.a sepeda motor *di medan sebutan sepeda motor itu kereta😀
Dari sekian ratus x aku diantar ke rumah, akhirnya di saat itulah aku tiba pada satu pertanyaan.

“Apa yang dirasakan yang mengantar ini setelah dia pulang sendiri?”

Aku mulai berpikir. Selama diperjalanan aku yang dibonceng sering bercerita dengan yang mengantar. Walau malam sudah larut, tapi kalau bercerita pasti tak terasa. Tapi kalau tak ada teman bercerita, apa yang terjadi?

Aku sebagai yang diantar sudah bisa menikmati makanan dan minuman sambil nonton ataupun berbicara dengan keluarga?
Tapi bagaimana dengan si pengantar?
Dia masih harus kembali ke tempat tujuannya, sendiri. Hanya berpikir sendiri, menanti di lampu merah sambil berdiam diri. Berusaha untuk mengingat kembali jalan pulang, karena memang masih asing dirasakan. Bukan tak lelah membawa kereta, setidaknya begitulah penuturan kawanku di kuliah dulu.

Bahkan di kondisi yang sekarang begal lagi marak-maraknya dan dulu geng motor, pasti ada perasaan was-was di dalam hati.

Biasa kalo aku diantar, hanya mengucap terima kasih. Tak membayar, karena nanti macam ojek pulak jadinya. Jadi mungkin inilah yang bisa kukasi dulu ya.

“Sebuah apresiasi”

Setelah pertanyaan ini muncul, dan akhirnya berpikir seperti penuturan diatas, aku tahu bahwa aku harus mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa ada orang yang masih mau seperti ini. Sudah lelah badan terasa, siap ngantar putar balik lagi menuju ke rumah/kosan, dan itu sendiri.
Sesungguhnya aku percaya orang-orang seperti ini pasti Tuhan sudah siapkan kado-kado atas setiap pengorbanan yang dikerjakan.
Itu yang aku pikirkan. Tuhan punya rencana yang baik untuk orang-orang ini.
Memang bisa saja malas melanda, tapi mereka memilih bersedia.

Inilah yang bisa kuberikan, sebuah apresiasi.
Tak ada maksud membuat post ini agar:”makin sering aku diantar pulang nanti, karena udah kuapresiasi dan kupuji”
Hahaha
Aku selalu mengusahakan lebih memilih angkot, karena angkot punya banyak cerita.
Jadi kalo udah gak realistis lagi dapat angkot, barulah cari bala bantuan😀

So, mungkin kalian masih akan punya “quests” atau petualangan-petualangan lagi dalam mengantar orang ke depannya.
Tapi biarlah kalian terus bersemangat.
Karena percayalah selalu ada orang yang bersyukur untuk kalian, dan Tuhan senang disaat kalian menjadi berkat bagi sesama.

Bagi yang sering diantar pulang, mari tetap ingat menyampaikan terima kasih kepada para pengantar.

See ya🙂

sumber gambar: https://achmadsyaroni.files.wordpress.com/2013/01/mbahe-rossi.jpg

10 thoughts on “Sebuah Apresiasi Untuk Para Pengantar

  1. Baca judul saya pikir kata pengantar yang ada di buku. Ternyata yang suka mengantar.
    Memang patut diapresiasikan, soalnya saya sering diantar―minta diantar pulang ketika pulang sekolah bareng teman.🙂

  2. Bener bgt nih, apalagi yg punya pacar. Kadang suka sepi aja gtu kalau abs nganter pacar ke rumah, trus sndirian nyetir dr rmh pacar ke rumah sndirian. Belum kalu macet dll.

    Top abs postingan yg ini~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s