Jalan Kaki Pulang Dari Kantor


Jalan Kaki

Hampir dua bulan udah aku gak ngeblog.

Walaupun tiap hari memantau dashboard dan juga kepikiran beberapa hal untuk dituliskan di blog ini, tapi tetap aja untuk mengambil waktu dan mengumpulkan mood untuk menulis sulit untuk didapatkan, sampai tibalah hari ini.
Awalnya semua biasa-biasa saja. Aku berangkat ke kantor, mengerjakan pekerjaan dan setelah itu pulang. Dan hal yang lebih biasa adalah, walaupun ini sudah tanggal muda tapi dompetku masih kelihatan tua. Uang di dompetku hanya tinggal selembar, tapi bukan selembar biasa. Ini adalah lembaran Soekarno-Hatta #iykwim😀. Yap, uang 100an. tapi itu sebenarnya udah termasuk uang simpanan, karena gaji belum datang, uang simpanan pun akhirnya harus turun membantu jalannya kehidupan.

Biasanya aku berjalan ke simpang dari kantor. Tapi kalau ada orang yang kebetulan bawa kendaraan mau pulang ke depan, kadang aku nebeng. Dan hari ini ternyata ada bang eman, teman satu kantorku, di mau pulang, jadinya aku bisa nebeng. Sesampainya di simpang, aku pun turun karena aku dan bang eman berbeda arah rumah. Jadi aku pun nyebrang untuk menunggu angkot pulang ke rumah. Saat sudah datang angkot yang jurusannya sesuai dengan arah rumahku, aku baru teringat, ternyata uangku hanya 1 lembar uang proklamator.

Kalo aku kasi uang proklamator waktu bayar ongkos, feelingku gak enak. Karena dari pengalamanku sering, yang bayar ongkos pake uang 50 ribu aja pun sering kena semprot sama supir, ini apalagi uang 100 ribu. Ah, niatku untuk naik angkot pun kubatalkan. aku memutuskan untuk menukar uangku terlebih dahulu.
Aku mulai berjalan, memperhatikan setiap pinggiran jalan, dimana kira-kira aku bisa memecahkan uang 100 ini. Pertama lewatlah aku di depan tukang sate. Wah mantap kali harumnya pikirku. Tapi berhubung ini masih belum jelas gajiannya kapan, aku pikir hemat-hemat dululah, beli keperluan yang memang wajib dibeli ajalah, bukannya makan di luar (karena kakakku masak di rumah). Akhirnya kuputuskan, aku mau membeli odol saja, karena memang odolku sudah habis.
Mulai dari pajak setiabudi, aku mencari-cari indomaret atau alfamart. Ternyata sampai simpang dr.mansyur pun ku cari tidak ada. Sebenarnya disitu ada minimarket, tapi iklan di depannya katanya dia jual snack dll impor. Bah, elit kali lah aku, mau gosok gigi pun pake odol impor, apalagi pas lagi tinggi kali nilai tukar rupiah dengan dolar. Bisa-bisa nangis aku pas gosok gigi, soalnya dolar ini yang kugosok-gosok ke gigiku.

Ku teruskan perjalananku sambil memperhatikan kiri dan kanan. Perjalanaku tidak seperti lagu naik-naik ke puncak gunung, karena kiri kanan kulihat banyak, bukan pohon cemara, tapi tukang putu, tukang goreng, tukang jus, tukang susu, tukang sate, tukang pizza, tukang bebek goreng, tukang buah sampai tukang parkir. Wah, tak terasa aku berjalan, ternyata udah sampai di gerbang depan Tasbi, jalan utama masuk ke kantorku (biasanya aku ke kantor dari jalur belakang/backdoor, dari pajak setiabudi).

Ini uang belum juga pecah-pecah. Padahal aku udah jalan cukup jauh. Tapi memang aku lagi gak ada kerjaan, ya udahlah pikirku, coba jalan sedikit lebih jauh lagi manatau ketemu. Jalan ku terus berjalan, akhirnya sampai di jalan Abdul Hakim (tembusan kampung susuk dekat USU), akhirnya ketemu indomaret. Singgahlah aku di Indomaret itu.
Masuk ke indomaret, aku pun berharap akan dapat ucapan “Selamat Sore, silahkan berbelanja” dari penjaga indomaret. Ternyata pas aku masuk, gak ada yang ngucapkan apa-apa. Ah, bohonglah meme yang tadi pagi kubaca, katanya jangan baper kalo pas di indomaret ato alfamart ada yang ngucapkan selamat pagi ato selamat sore. Nah, ini aku masuk malah gak ada ucapan apa-apa. Dapat ucapan nggak, kena baper iya *combo attack*.

Yaudahlah pikirku, aku pun berjalan ke arah tempat odol, untuk mencari odol yang biasa kupakai. Pas nyampe, kulihat ada odolnya langsung kuambil. Aku berkeliling bentar, sebelum ke kasir, melihat-lihat apa yang bisa dimakan. ternyata karena udah jauh jalan, lapar juga perutku. Pas aku lihat, ada potato chip yang belum pernah kumakan. Coba ahhh, pikirku dan aku pun menuju kasir untuk membayar. Pas membayar ternyata total yang kubeli sekitar 40 ribu. Bah, teringat aku, padahal tadi niatku mau hematnya, nah ini malah jadi lebih banyak pengeluaran. Tapi yaudahlah kubayar aja. Setelah membayar aku bergegas keluar. Ternyata pas keluar pun aku tetap aja gak ada sapaan dari yang jaga indomaret ini. Ah sudahlah mungkin aku terlalu baik buat mereka.

Sambil makan chip itu aku pun berjalan menuju ke tempat nunggu angkot, karena uangku sekarang gak uang proklamator lagi, tapi aku udah ditemani sama I Gusti Ngurah Rai, Sultan Mahmud Badaruddin, 2 Pangeran Antasari sama 2 burung Kakatua Raja (ayo tebak berapa jumlah uangku sekarang :D). Setiap angkot yang lewat isinya padat semua, aku pun mulai berjalan saja sambil ngemil, manatau nanti ada angkot yang lewat agak lengang. Ternyata aku jadinya malah keasikan jalan, karena ternyata aku udah sampai di pasar 2 setiabudi. Wah udah makin dekat aja ke rumah pikirku (walaupun masih berjarak sekitar 1 atau 2 KM lebih dari rumahku).
Aku pun mulai berpikir, ini aku masih mau naik angkot ato lanjut jalan kaki aja ke rumah. Karena memang kakiku udah agak berasa pegal ini. Tapi coba ajalah jalan terus, pas udah gak tahan lagi nanti naik angkot aja pikirku lagi. Aku pun lanjut berjalan.

Selama berjalan, orang-orang banyak yang memperhatikanku. Baik yang di angkot, di kendaraan ato yang di toko dan warung di pinggir jalan. Mungkin janggal ya, karena aku pake tas besar (aku bawa laptop) sama pake sepatu pancus tapi jalan kaki. Jelas-jelas sepatu pancus itu bukan kategori sepatu sport, dibilang backpacker juga orang gak bakal percaya, mana ada orang backpacker pake sepatu pancus😀. Tapi yaudahlah pikirku, aku lanjut jalan aja. Biarlah aku seperti berjalan di catwalk, semua mata tertuju padaku😀

Asik juga sih ternyata jalan-jalan sore gini di kota Medan. Walau macet di tengah jalan, tapi di tepi jalan bisa melaju gas terus. Langit yang masih terang dan cerah pun enak untuk di pandang. Aktivitas orang-orang di sore hari pun masih kelihatan penuh gairah, karena memang banyak yang memulai aktivitasnya di sore hari, terkhusus yang berjualan. Melihat hal-hal yang lebih detail lagi, karena memang selama ini aku lihat pas di angkot, tapi pas berjalan aku malah lihat banyak hal yang gak aku perhatikan selama ini. Lumayanlah perjalanan sore ini untuk merefresh kembali otak yang sudah cukup capek berpikir ini.

Beberapa menit kemudian tibalah aku di lampu merah ringroad. Walau sudah agak capek, tapi ini sudah sangat dekat ke rumahku. Aku pun lanjut berjalan terus sampai akhirnya tiba di simpang pemda. Di simpang pemda, langit sudah tidak terlalu cerah, karena jam sudah menunjukkan pukul 18.20. Kulanjutkan berjalan, akhirnya sampailah aku di rumah pukul 18.35. Ternyata aku sudah berjalan sekitar 1 jam.

Wow, gak nyangka ternyata bisa juga aku jalan kaki pulang dari kantor. Memang gak pernah terpikir untuk pulang dengan berjalan kaki, apalagi jarak rumah ke kantor tidak dekat, berjarak sekitar lebih kurang 4 KM. Tapi yeah, i made it. Berjalan menaiki gunung mungkin lebih menarik dan memang aku tadi gak naik gunung dan akhirnya poto di puncak dengan tulisan di kertas. Tapi setidaknya aku melakukan sesuatu yang mungkin dirasakan orang “kurang kerjaan” ato “tah apa-apa” dan ya, aku melakukannya. Memang aku suka hal yang anti mainstream😀

Demikianlah kisahku hari ini. Aku merasa perlu menuliskannya, karena secara pribadi ini menarik bagiku. Berjalan menikmati sore di kota Medan. Semoga kaki ini masih tetap kuat. Soalnya gak tau di hari esok, dompet masih kering atau sudah musim penghujan. Kalo tetap masih belum gajian, kayaknya bakal sering aku jalan kaki pulang dan pergi ngantor ini😀 *Impossible, masak kembali ke zaman dahulu aku😀

Selamat malam untuk kita semua.
Selamat beristirahat.

Salam dari Jakup, di kejauhan 4 Km dari kantor di tasbi :’D

7 thoughts on “Jalan Kaki Pulang Dari Kantor

  1. Saya nggak begtu tahu jalan-jalanan kota Medan, jadi nggak tau nama-nama tempat yang disebutkan. Tapi ceritanya kocak. Saya juga pernah sih dulu pengalaman jalan kaki gara-gara uang ongkos habis. Syukurnya itu jaman kuliah aja, sejak udah berpenghasilan nggak pernah lagi.

    Btw, mbak, Alfamartnya cakep ya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s