Matt dan Elektra


Sudah lama tidak membuat postingan disini. Terlebih karena kemaren sempat ada blog lain yang diurusi. Tapi sekarang blog yang satu itu pun sudah kurang terurus, dan malah aku pegang hal yang lain.

Aku rasa memang aku ada sedikit kelemahan dalam hal konsistensi. aku tertarik melakukan banyak hal yang baru dan yang berbeda dari lainnya. Ide yang kudapat seringkali sangat baik. Tapi ketidakmampuanku untuk konsisten membuat semua hal hanya bertahan sebentar saja setelah itu hilang. Mulai hal yang baru lagi.

Sekarang aku juga sedang bingung bagaimana melanjutkan apa yang sudah aku kerjakan sekarang. Aku terpikir sesuatu, tapi tak begitu yakin apakah itu yang memang harus aku lakukan. Disaat seperti ini aku pikir, senang rasanya bisa menyampaikan hal ini kepada orang lain dan berbicara tentang hal itu. Seringkali ada banyak pertanyaan, keraguan dan kebingungan yang harus dipikirkan sendiri. Tapi selalu saat hanya berpikir sendiri, akhirnya harus kupilih berhenti, karena aku tak tahu apa lagi alasan untuk melanjutkannya.

Tapi siapa yang benar-benar mau mendengar?

Mungkin ada banyak solusi dalam pikiranku, tapi aku pikir aku butuh diyakinkan untuk hal itu. Aku berharap bisa menceritakan dengan bebas hal tersebut tanpa ragu hal itu akan dianggap tidak penting.

Mungkin belum waktunya ada orang yang mau mendengarkan. Memang harus terhenti lagi dalam langkah yang sama, dimana tak mampu melangkah bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak yakin.

Ketika melankolis melanda, maka itu mengambil bagian yang kuat dalam diri ini. Logika berjalan dengan baik, namu perasaan yang fokus pada diri sendiri itu yang lebih kuat. Menerima nasib dengan mengulang-ngulang betapa tidak layaknya, menjadi hal yang terus dilakukan. Dan itu tidak menyenangkan, karena itu berarti akhir perjuangan. Dan aku harus menunggu sampai waktu vakum yang aku tidak tahu, yang mungkin akan lebih cepat saat ada masalah yang terjadi.

Tapi sejujurnya aku tidak tahu itu kapan waktunya.

Mungkin memang baru dinding ini yang bisa diajak meluapkan apa yang dirasakan. Dinding ini memang mendengar, tapi dia tak bisa merespon. Tapi itu lebih baik, daripada hal ini harus selalu dipikirkan sendiri.

Biarlah dinding ini yang memikirkan itu dan tak perlu beritahu aku lagi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s