Matt dan Elektra


Sudah lama tidak membuat postingan disini. Terlebih karena kemaren sempat ada blog lain yang diurusi. Tapi sekarang blog yang satu itu pun sudah kurang terurus, dan malah aku pegang hal yang lain.

Aku rasa memang aku ada sedikit kelemahan dalam hal konsistensi. aku tertarik melakukan banyak hal yang baru dan yang berbeda dari lainnya. Ide yang kudapat seringkali sangat baik. Tapi ketidakmampuanku untuk konsisten membuat semua hal hanya bertahan sebentar saja setelah itu hilang. Mulai hal yang baru lagi.

Sekarang aku juga sedang bingung bagaimana melanjutkan apa yang sudah aku kerjakan sekarang. Aku terpikir sesuatu, tapi tak begitu yakin apakah itu yang memang harus aku lakukan. Disaat seperti ini aku pikir, senang rasanya bisa menyampaikan hal ini kepada orang lain dan berbicara tentang hal itu. Seringkali ada banyak pertanyaan, keraguan dan kebingungan yang harus dipikirkan sendiri. Tapi selalu saat hanya berpikir sendiri, akhirnya harus kupilih berhenti, karena aku tak tahu apa lagi alasan untuk melanjutkannya.

Tapi siapa yang benar-benar mau mendengar?

Mungkin ada banyak solusi dalam pikiranku, tapi aku pikir aku butuh diyakinkan untuk hal itu. Aku berharap bisa menceritakan dengan bebas hal tersebut tanpa ragu hal itu akan dianggap tidak penting.

Mungkin belum waktunya ada orang yang mau mendengarkan. Memang harus terhenti lagi dalam langkah yang sama, dimana tak mampu melangkah bukan karena tidak bisa, tapi karena tidak yakin.

Ketika melankolis melanda, maka itu mengambil bagian yang kuat dalam diri ini. Logika berjalan dengan baik, namu perasaan yang fokus pada diri sendiri itu yang lebih kuat. Menerima nasib dengan mengulang-ngulang betapa tidak layaknya, menjadi hal yang terus dilakukan. Dan itu tidak menyenangkan, karena itu berarti akhir perjuangan. Dan aku harus menunggu sampai waktu vakum yang aku tidak tahu, yang mungkin akan lebih cepat saat ada masalah yang terjadi.

Tapi sejujurnya aku tidak tahu itu kapan waktunya.

Mungkin memang baru dinding ini yang bisa diajak meluapkan apa yang dirasakan. Dinding ini memang mendengar, tapi dia tak bisa merespon. Tapi itu lebih baik, daripada hal ini harus selalu dipikirkan sendiri.

Biarlah dinding ini yang memikirkan itu dan tak perlu beritahu aku lagi.

Gak Foto Makanan Bukan Berarti Makan Jadi Kurang Bermakna


Kebiasaan anak muda sekarang kan foto2 makanan ya.
Apalagi kalo dia emang food blogger, ya sudah wajiblah itu.

Jadi tadi, aku ditraktir makan sama kakakku di tempat makan yang ada dimsum2nya gitu di Sun Plaza. Ya, kalo makan begini kan pasti photoable kan πŸ˜€
Udah nyampe dimsumnya, aku kepikiran foto gak ya, foto gak ya.
Tapi aku memang gak biasa foto2 begitu, biasa orang lain inisiatornya, jadi agak aneh kurasa kalo aku yang foto2 makanan di rumah makan πŸ˜€
Lagian aku juga bukan food blogger.
Walaupun begitu, aku galau juga, padahal jarang makan dimsum2an, ya potolah ya.
Sampai akhirnya aku sampai di satu kesimpulan:
“Ya kalo mau makan dan bareng orang, intinya ya makan dan cerita2lah sama orang itu.”

Tak jadilah kufoto makanan yang udah kumakan tadi, makanya tak ada foto makanan di post kali ini πŸ˜€
Kami pun makan dan aku sangat menikmati pembicaraan kami hari ini, walaupun tak ada foto-foto πŸ˜€

NB:
Buat pojok wb, maaf pendek kali postnya ya.
Aku masih gagal moveon buat ledakan imajinasi yang baru, karena aku baru ngalami beberapa kegagalan dalam merealisasikan ledakan imajinasiku πŸ˜€

5 Hal Yang Patut Direnungkan Kalau Kamu Tidak Pernah Membagikan Mimpimu Kepada Orang Lain


Sebenarnya artikel ini kubuat untuk kontes di hipwee.

Tapi ternyata setelah 2 minggu, gak dipandang2 artikel ini oleh pihak hipwee.

posting disini ajalah ya πŸ˜€

——–

Semua orang pasti punya mimpi. Selain karena setiap orang pasti tidur di malam hari :D, pikiran yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia, membuat kita dapat mengimpikan sesuatu yang kita idamkan bisa terwujud di dalam hidup. Mimpi tersebut akan dapat terwujud kalau kita mulai mengerjakannya. Tapi bagi beberapa orang, mimpi itu seringkali tidak terjadi bahkan terkadang berujung pada sebuah kekecewaan, karena mimpi yang sebenarnya dapat dicapai, tak bisa direalisasikan. Ini bisa terjadi karena orang tersebut tidak pernah membagikan mimpinya kepada orang lain. Apakah kamu juga orang yang tidak pernah membagikan mimpimu kepada orang lain? Mungkin beberapa hal ini dapat kamu renungkan.

1. Terbenam dalam pemikiran sendiri dan pesimisme

Pesimis via http://cdn.jitunews.com/dynamic/article/2014/10/30/3663/LXr9HIeYBZ.jpg?w=632

Seorang yang selalu mengerjakan sesuatu sendiri tak selalu karena merasa dirinya mampu. Ini bisa terjadi karena dia kurang bisa memberikan kepercayaan kepada orang lain, merasakan bahwa orang lain tidak akan dapat membantunya sungguh-sungguh atau malah ide itu akan dicuri oleh orang tersebut. Ini yang akan membuat kamu akan selalu terjebak dalam pemikiran sendiri yang akhirnya selalu berujung pada pesimisme. Bisa saja kamu adalah orang yang sangat kreatif, karena kamu selalu bisa berkhayal dalam pikiranmu sendiri tentang banyak ide-ide yang sangat bisa direalisasikan. Namun karena kamu tidak membagikannya dengan orang lain, ide kreatif itu hanya kamu simpan sendiri dan semakin terbenam dalam dalam pikiran sampai akhirnya kamu tidak punya semangat untuk mengerjakannya, atau akhirnya memilih untuk tidak memikirkannya lagi.

2. Kaki terikat tak bisa melangkah

Kaki Terikat via https://statik.tempo.co/?id=241737&width=620

Bermimpi adalah suatu hal yang sangat indah. Membayangkan sesuatu yang dalam realita akan sulit untuk didapatkan, namun saat kita mengimpikannya hal itu seperti sudah ada di depan mata. Untuk mewujudkan suatu mimpi tentu tidak mudah, butuh usaha yang ekstra serta pengorbanan yang bisa sampai mencucurkan air mata. Namun hal itu tidak akan pernah terwujud jika kita memilih mengerjakannya sendirian. Tak semua orang dapat terus kuat dan tegar dalam mencapai mimpinya. Seringkali hal-hal yang sudah direncanakan sebelumnya tak berjalan sesuai harapan atau bisa saja terjadi hal-hal yang diluar dugaan sehingga menghambat terwujudnya mimpi tersebut. Langkah kaki akan semakin berat melangkah, disaat semakin banyak beban yang kamu pikul di pundakmu sendiri. Kamu membutuhkan orang-orang yang dapat membantumu mengerjakannya bersama-sama. Semangat dari orang lain juga akan sangat membantu disaat kamu serasa ingin berhenti melangkah melanjutkan perjuanganmu.

3. Dihantui memori kegagalan setiap hari

Kenangan Buruk via http://cdn-2.tstatic.net/palembang/foto/bank/images/kenangan-buruk.jpg

Segudang ide yang kamu punya akan selalu muncul dalam pikiranmu, terlepas apakah ide itu kamu kerjakan atau tidak. Jika kamu kerjakan, ide itu akan menjadi memori yang indah dalam pikiranmu, yang membuatmu semakin bersemangat mewujudkan ide lainnya. Namun jika ide-ide itu tidak pernah kamu laksanakan, maka memori tentang kegagalanmu yang tidak pernah memulai mewujudkan ide-ide tersebut akan selalu menghantui hidupmu. Dan kamu merasa kamu layak menanggung itu semua dan merasa bahwa kamu adalah orang gagal yang tidak akan pernah bisa apa-apa dan memutuskan tidak akan memulai ide apa pun yang muncul berikutnya.

4. Mampu berenang melawan arus, namun selalu terbawa dalam arus

Melawan Arus via https://bisnisnesia.files.wordpress.com/2015/02/melawan-arus.jpg

Dengan ide yang kamu miliki kamu seharusnya bisa menjadi orang yang anti mainstream, melakukan hal yang out of the box. Tapi akhirnya kamu akan selalu menjadi orang dalam jalur mainstream, karena idemu hanya sebatas di pikiran saja. Dan itu akan sangat membuatmu frustrasi, karena kamu memiliki keyakinan bahwa kamu mampu untuk menjadi berbeda, namun faktanya kamu tetap menjadi orang yang sama dengan lainnya. Ide yang sepertinya sangat mungkin untuk kamu wujudkan, dan memberikan dampak positif tidak terwujud karena kamu selalu memendamnya sendiri. Dan bila akhirnya ada orang lain yang berhasil mewujudkan ide tersebut, kamu pun akan menjadi menyesal dan kecewa sehingga kamu hanya bisa berkata bahwa kamu pernah memikirkan hal itu sebelumnya. Tentu ide yang tidak pernah direalisasikan tidak berarti apa-apa.

5. Mulailah Berbagi

Persahabatan via http://fotokita.net/blog/wp-content/uploads/2016/01/aris-munandar_-_potret-persahabatan.jpg

Jika kamu merasakan hal diatas dan kamu tau kamu harus keluar dari situ, maka mungkin ini waktunya bagimu untuk membagikan mimpi dan idemu. Mulailah berbagi dengan orang-orang yang kamu rasa mau mendengarkanmu. Walaupun orang yang akan mendengar idemu, belum tentu dapat membantu mewujudkannya, namun dengan membagikannya kepada orang lain, dapat membuatmu mengetahui hal-hal yang belum terpikirkan dalam ide itu sebelumnya. Orang-orang Β dapat memberikan pendapatnya tentang ide itu kepadamu.

Apabila kamu sulit untuk dapat berbagi dengan orang lain secara langsung, ada alternatif lain untuk dapat membagikan mimpi-mimpimu, yaitu dengan menulisnya di media online. Saat ini ada banyak website-website yang memberikan ruang Β untuk dapat berbagi ide yang ada dalam pikiranmu. Kamu dapat menuliskan ide tersebut disitu dan menantikan ide tersebut dibaca oleh banyak orang. Setiap orang yang membaca dapat memberikan komentarnya dan hal ini tentu menjadi lebih efektif karena kamu bisa mendapat feedback yang lebih banyak dari orang-orang yang berbeda. Tak menutup kemungkinan orang yang membaca tulisanmu juga memiliki ide yang sama denganmu dan kalian bisa memutuskan untuk bekerja sama mewujudkan ide tersebut. Karena persahabatan tak selalu di mulai di masa SMA. Bisa saja persahabatanmu terjadi disaat kamu mulai membagikan idemu terhadap orang lain.

Apa Yang Ada Di Pikiran Artis-artis Sekarang?


Prilly latuconsina
Prilly latuconsina

Malam semuanya..
Udah lama saya gak ngeblog. Inspirasi selalu ada, tapi susah ngumpulkan mood buat menulisnya. Hingga datanglah hari ini, dimana saya membaca tentang artis Prilly Latuconsina yang buat video yang menghina.

Saya bukan fans dari artis ini.
Tapi setelah meilhat dia seperti jadi topik pembicaraan di berita, saya pun penasaran, apa sebenarnya kehebohan yang dia rasakan. Ternyata dia sedang membuat video dengan temannya, dan memberikan tanggapan terhadap bagaimana hubungannya dengan salah satu artis yang bernama Aliando. Dia bilang kedekatan mereka, dan yang membuat saya kaget adalah dia berani mengatakan keluarga lelaki tersebut seperti anj*ng dan t*i, secara terang2an.

Saya sama sekali tidak tertarik membela keluarga Aliando yang dikatakn begitu, toh saya tidak punya kuasa apa-apa. Tapi hal ini sangat membuat hati saya sedih, oleh karena itu saya mau berbagi dengan teman2 semua.

Teman-teman pasti sudah tau, bahwa program televisi yang dibintangi oleh prilly dan aliando ini. Ya nama sinetron itu adalah Ganteng-Ganteng Serigala. Teman-teman juga pasti sudah tau, kalau acara tersebut termasuk dalam 10 acara televisi yang dianggap kurang mendidik.

http://www.merdeka.com/peristiwa/kpi-10-sinetron-ini-tak-layak-tonton.html

http://www.kaskus.co.id/thread/5439b3fd32e2e69e178b456a/nih-gan-yang-buat-sinetron-ggs-dilarang-kpi/

Saya rasa kita semua juga sepakat bahwa memang acara itu kurang mendidik, karena menggambarkan kisah anak SMA namun tidak menunjukkan bagaimana karakter anak SMA yang seharusnya, yang patut dicontoh. Tapi tentu itu tidak akan berarti bagi adik-adik atau keponakan kita yang masih kecil. Mereka tidak peduli dengan tingkah laku yang tidak patut dicontoh itu. Malahan mereka pikir seperti itulah yang patut dicontoh.

Saya berulang kali juga mengatakan kepada keponakan dulu, bahwa film seperti ini tidak cocok ditonton anak-anak. Ibunya juga pernah melarang dia sama sekali nonton sinetron itu, namun akhirnya di kasi nonton juga. Soalnya ibunya kasian.
Teman-teman keponakan saya semua menonton film itu, jadinya sepertinya keponakan saya saja yang tidak tahu jalan ceritanya. Kasian juga melihat dia yang bercerita di rumah, tentang dia yang dikasi tau temannya bagaiamana jalan cerita GGS pada hari dia tidak menonton.
Ya saya pikir, ya sudahlah.

Beberapa bulan kemudian, akhirnya sinetron itu tidak lagi ditayangkan di jam biasa namun ditayangkan di jam agak malam. Walaupun akhirnya keponakan saya akhirnya tidak lagi menonton sinetron tersebut, tapi tetap saja dia mengidolakan pemeran-pemeran dari sintron tersebut hingga hari ini, saat saya membaca berita tentang Prilly ini.

Saya sebenarnya gak habis pikir, apa memang artis2 ini gak tau ya banyakan anak2 yang ngefans dan suka sama mereka. Para orangtua sudah merelakan anak2 mereka menonton sinetron ini yang sbenarnya dirasakna kurang memberikan pendidikan yang positif. Nah sekarang, malah artisnya yang seenaknya ngomong kayak begitu, sambil ketawa2.

Tau gak artis2 itu ya, kalo anak-anak sekarang suka pinjam hape ortunya, buat searching foto2 artis tersebut bahkan sampai lihat videonya di youtube. Pasti suatu saat mereka akan melihat video yang dibuat oleh prilly ini. Dan pasti, mereka akan semakin lancar mengatakan kata-kata anj*ng dan t*i kepada orang-orang, karena toh dia melihat artis yang disukainya, artis yang ditiru2nya gayanya, ngomong begitu juga.

Gak taulah mau bagaimana lagi kalau begini.
Mau melarang anak2 nonton TV, gak semua bisa dilarang.
Mau berharap dari TV yang ngasi tayangan yang mendidik, malah ngasih yang aneh2 yang penting orang suka.
Mau berharap sama artis, yang bisa nyadar dia jadi fans banyak anak-anak, eh malah suka2 dia aja dibuatnya ngomong.

Gak tau lagilah cemana.

*Belum lagi zaskia gotik yang diangkat jadi duta Pancasila.

Ini videonya:

Jalan Kaki Pulang Dari Kantor


Jalan Kaki

Hampir dua bulan udah aku gak ngeblog.

Walaupun tiap hari memantau dashboard dan juga kepikiran beberapa hal untuk dituliskan di blog ini, tapi tetap aja untuk mengambil waktu dan mengumpulkan mood untuk menulis sulit untuk didapatkan, sampai tibalah hari ini.
Awalnya semua biasa-biasa saja. Aku berangkat ke kantor, mengerjakan pekerjaan dan setelah itu pulang. Dan hal yang lebih biasa adalah, walaupun ini sudah tanggal muda tapi dompetku masih kelihatan tua. Uang di dompetku hanya tinggal selembar, tapi bukan selembar biasa. Ini adalah lembaran Soekarno-Hatta #iykwim :D. Yap, uang 100an. tapi itu sebenarnya udah termasuk uang simpanan, karena gaji belum datang, uang simpanan pun akhirnya harus turun membantu jalannya kehidupan.

Biasanya aku berjalan ke simpang dari kantor. Tapi kalau ada orang yang kebetulan bawa kendaraan mau pulang ke depan, kadang aku nebeng. Dan hari ini ternyata ada bang eman, teman satu kantorku, di mau pulang, jadinya aku bisa nebeng. Sesampainya di simpang, aku pun turun karena aku dan bang eman berbeda arah rumah. Jadi aku pun nyebrang untuk menunggu angkot pulang ke rumah. Saat sudah datang angkot yang jurusannya sesuai dengan arah rumahku, aku baru teringat, ternyata uangku hanya 1 lembar uang proklamator.

Kalo aku kasi uang proklamator waktu bayar ongkos, feelingku gak enak. Karena dari pengalamanku sering, yang bayar ongkos pake uang 50 ribu aja pun sering kena semprot sama supir, ini apalagi uang 100 ribu. Ah, niatku untuk naik angkot pun kubatalkan. aku memutuskan untuk menukar uangku terlebih dahulu.
Aku mulai berjalan, memperhatikan setiap pinggiran jalan, dimana kira-kira aku bisa memecahkan uang 100 ini. Pertama lewatlah aku di depan tukang sate. Wah mantap kali harumnya pikirku. Tapi berhubung ini masih belum jelas gajiannya kapan, aku pikir hemat-hemat dululah, beli keperluan yang memang wajib dibeli ajalah, bukannya makan di luar (karena kakakku masak di rumah). Akhirnya kuputuskan, aku mau membeli odol saja, karena memang odolku sudah habis.
Mulai dari pajak setiabudi, aku mencari-cari indomaret atau alfamart. Ternyata sampai simpang dr.mansyur pun ku cari tidak ada. Sebenarnya disitu ada minimarket, tapi iklan di depannya katanya dia jual snack dll impor. Bah, elit kali lah aku, mau gosok gigi pun pake odol impor, apalagi pas lagi tinggi kali nilai tukar rupiah dengan dolar. Bisa-bisa nangis aku pas gosok gigi, soalnya dolar ini yang kugosok-gosok ke gigiku.

Ku teruskan perjalananku sambil memperhatikan kiri dan kanan. Perjalanaku tidak seperti lagu naik-naik ke puncak gunung, karena kiri kanan kulihat banyak, bukan pohon cemara, tapi tukang putu, tukang goreng, tukang jus, tukang susu, tukang sate, tukang pizza, tukang bebek goreng, tukang buah sampai tukang parkir. Wah, tak terasa aku berjalan, ternyata udah sampai di gerbang depan Tasbi, jalan utama masuk ke kantorku (biasanya aku ke kantor dari jalur belakang/backdoor, dari pajak setiabudi).

Ini uang belum juga pecah-pecah. Padahal aku udah jalan cukup jauh. Tapi memang aku lagi gak ada kerjaan, ya udahlah pikirku, coba jalan sedikit lebih jauh lagi manatau ketemu. Jalan ku terus berjalan, akhirnya sampai di jalan Abdul Hakim (tembusan kampung susuk dekat USU), akhirnya ketemu indomaret. Singgahlah aku di Indomaret itu.
Masuk ke indomaret, aku pun berharap akan dapat ucapan “Selamat Sore, silahkan berbelanja” dari penjaga indomaret. Ternyata pas aku masuk, gak ada yang ngucapkan apa-apa. Ah, bohonglah meme yang tadi pagi kubaca, katanya jangan baper kalo pas di indomaret ato alfamart ada yang ngucapkan selamat pagi ato selamat sore. Nah, ini aku masuk malah gak ada ucapan apa-apa. Dapat ucapan nggak, kena baper iya *combo attack*.

Yaudahlah pikirku, aku pun berjalan ke arah tempat odol, untuk mencari odol yang biasa kupakai. Pas nyampe, kulihat ada odolnya langsung kuambil. Aku berkeliling bentar, sebelum ke kasir, melihat-lihat apa yang bisa dimakan. ternyata karena udah jauh jalan, lapar juga perutku. Pas aku lihat, ada potato chip yang belum pernah kumakan. Coba ahhh, pikirku dan aku pun menuju kasir untuk membayar. Pas membayar ternyata total yang kubeli sekitar 40 ribu. Bah, teringat aku, padahal tadi niatku mau hematnya, nah ini malah jadi lebih banyak pengeluaran. Tapi yaudahlah kubayar aja. Setelah membayar aku bergegas keluar. Ternyata pas keluar pun aku tetap aja gak ada sapaan dari yang jaga indomaret ini. Ah sudahlah mungkin aku terlalu baik buat mereka.

Sambil makan chip itu aku pun berjalan menuju ke tempat nunggu angkot, karena uangku sekarang gak uang proklamator lagi, tapi aku udah ditemani sama I Gusti Ngurah Rai, Sultan Mahmud Badaruddin, 2 Pangeran Antasari sama 2 burung Kakatua Raja (ayo tebak berapa jumlah uangku sekarang :D). Setiap angkot yang lewat isinya padat semua, aku pun mulai berjalan saja sambil ngemil, manatau nanti ada angkot yang lewat agak lengang. Ternyata aku jadinya malah keasikan jalan, karena ternyata aku udah sampai di pasar 2 setiabudi. Wah udah makin dekat aja ke rumah pikirku (walaupun masih berjarak sekitar 1 atau 2 KM lebih dari rumahku).
Aku pun mulai berpikir, ini aku masih mau naik angkot ato lanjut jalan kaki aja ke rumah. Karena memang kakiku udah agak berasa pegal ini. Tapi coba ajalah jalan terus, pas udah gak tahan lagi nanti naik angkot aja pikirku lagi. Aku pun lanjut berjalan.

Selama berjalan, orang-orang banyak yang memperhatikanku. Baik yang di angkot, di kendaraan ato yang di toko dan warung di pinggir jalan. Mungkin janggal ya, karena aku pake tas besar (aku bawa laptop) sama pake sepatu pancus tapi jalan kaki. Jelas-jelas sepatu pancus itu bukan kategori sepatu sport, dibilang backpacker juga orang gak bakal percaya, mana ada orang backpacker pake sepatu pancus :D. Tapi yaudahlah pikirku, aku lanjut jalan aja. Biarlah aku seperti berjalan di catwalk, semua mata tertuju padaku πŸ˜€

Asik juga sih ternyata jalan-jalan sore gini di kota Medan. Walau macet di tengah jalan, tapi di tepi jalan bisa melaju gas terus. Langit yang masih terang dan cerah pun enak untuk di pandang. Aktivitas orang-orang di sore hari pun masih kelihatan penuh gairah, karena memang banyak yang memulai aktivitasnya di sore hari, terkhusus yang berjualan. Melihat hal-hal yang lebih detail lagi, karena memang selama ini aku lihat pas di angkot, tapi pas berjalan aku malah lihat banyak hal yang gak aku perhatikan selama ini. Lumayanlah perjalanan sore ini untuk merefresh kembali otak yang sudah cukup capek berpikir ini.

Beberapa menit kemudian tibalah aku di lampu merah ringroad. Walau sudah agak capek, tapi ini sudah sangat dekat ke rumahku. Aku pun lanjut berjalan terus sampai akhirnya tiba di simpang pemda. Di simpang pemda, langit sudah tidak terlalu cerah, karena jam sudah menunjukkan pukul 18.20. Kulanjutkan berjalan, akhirnya sampailah aku di rumah pukul 18.35. Ternyata aku sudah berjalan sekitar 1 jam.

Wow, gak nyangka ternyata bisa juga aku jalan kaki pulang dari kantor. Memang gak pernah terpikir untuk pulang dengan berjalan kaki, apalagi jarak rumah ke kantor tidak dekat, berjarak sekitar lebih kurang 4 KM. Tapi yeah, i made it. Berjalan menaiki gunung mungkin lebih menarik dan memang aku tadi gak naik gunung dan akhirnya poto di puncak dengan tulisan di kertas. Tapi setidaknya aku melakukan sesuatu yang mungkin dirasakan orang “kurang kerjaan” ato “tah apa-apa” dan ya, aku melakukannya. Memang aku suka hal yang anti mainstream πŸ˜€

Demikianlah kisahku hari ini. Aku merasa perlu menuliskannya, karena secara pribadi ini menarik bagiku. Berjalan menikmati sore di kota Medan. Semoga kaki ini masih tetap kuat. Soalnya gak tau di hari esok, dompet masih kering atau sudah musim penghujan. Kalo tetap masih belum gajian, kayaknya bakal sering aku jalan kaki pulang dan pergi ngantor ini πŸ˜€ *Impossible, masak kembali ke zaman dahulu aku πŸ˜€

Selamat malam untuk kita semua.
Selamat beristirahat.

Salam dari Jakup, di kejauhan 4 Km dari kantor di tasbi :’D

Kalo Medan Hujan Dan Banjir Terus

Kalo Medan Hujan Dan Banjir Terus

Sudah beberapa hari ini hujan deras selalu turun di kota Medan. Siangnya cuaca bisa sangat panas, tapi kalo udah sore mulailah mendung dan kemudian hujan.
Enak sih kalo hujan di medan, karena sedikit lebih adem hawanya. Tapi kalo hujan terus turun dan tak kunjung berhenti, nah inilah yang bikin banjir.

Nah, kemaren aku buat status di facebook, tentang banjir di Medan ini. Aku bilang:

image
Status Facebook

Nah, ada juga kakak dan temanku yang menimpali dengan imajinasinya.
Maka jadi panjanglah imajinasiku πŸ˜€

1. Angkot dalam bentuk speedboard, becak pake jetski
Nah kayak yang kubuat di statusku, mungkin itulah yang akan terjadi di jalanan kota Medan, kalo Medan banjir terus. Udah gak ada lagi mobil mewah, udah digantikan dengan kapal pesiar nantinya. Polisi juga udah gak pake mobil dan sepeda motor lagi, tapi pake kapal selam. Jadi hati-hati bagi pengendara, karena pas ada razia nanti, polisinya gak kelihatan lagi, karena mereka ada di dalam kapal selam. πŸ˜€

2. Renang dan menyelam bukan lagi olahraga dan hiburan, tapi untuk penghematan
Bayangkanlah, kan udah air semua, jadinya gak bisa lagi jalan kaki kemana-mana. Kita mau beli sampo ke warung dekat rumah, pun harus berenang dulu. Bisa aja malah siap beli sampo, kita pulang ke rumah, sambil sampoan pas berenang. Buat anak kosan yang lagi bokek, udah gak ada uang buat naik angkot. Ya jarak 1 km pun ditempuhlah dengan cara berenang, biar hemat pulang dari kampus ke kosan. Kalo disuruh lomba triathlon, gak ada lagilah lawannya anak kosan di Medan ini nantinya.

3. Restoran-restoran udah ada dibawah air
Sekarang udah ada kan beberapa restoran yang menawarkan fasilitas makan di bawah laut. Jadi mungkin kalo medan banjir terus, udah bisalah dibuat restoran bawah air. Jadi kalo mau masuk, harus nyelam dulu. Bayangkan mau makan KFC kita udah gak perlu cuci tangan lagi, karena sambil menyelam kita bisa cuci tangan dulu.

4. Istilah seafood gak tenar lagi, tapi landfood
Ya kalo semua air kan, berarti langka daratan. Mungkin sayur yang sering dimakan itu rumput laut dan lauknya pake ikan. Kalo lagi bosan dengan menu biasa, bisa datang ke restoran landfood. Disitu ada banyak dijual makanan kayak, nasi goreng spesial landfood,Β  mie goreng landfood. Kerang rebus udah gak ngetren lagilah pokoknya. *emang sejak kapan kerang rebus jadi trend? πŸ˜€

5. Pakaian yang banyak dijual pakaian renang dan nyelam
Mall semacam Ramayana aku pikir masih tetap ada, dengan mbak-mbak yang selalu promo diskon pake micnya. Tapi yang dipromosikan adalah pakaian renang. Nanti pakaian renang bakal banyak jenisnya, mulai dari casual, hipster, harajuku, formal, sampai batik dan model kebaya. Gak cuma yang asli, pasar loak juga masih akan menjamur. Mulailah dipampangkan celana renang dari yang berenda sampe yang berlampu *ala pajak petisah katanya. Katanya celana renangnya diimpor dari korea, pernah dipake personil super junior 1x ganti-gantian :D.
Optik juga masih ada, dan gak cuma orang yang bermata minus kayak aku yg datang kesini nanti, tapi semua orang, karena butuh kacamata renang.

Itulah beberapa imajinasiku tentang banjir di Medan ini.
Itu hanya imajinasi ya, karena aku pun tak mengharapkan Medan terus-terusan banjir. Kemarin aja pulang kerja, terpaksa aku buka sepatu menembus banjir, karena banjirnya menutupi seluruh jalan.
Juga pasti merepotkan bagi saudara-saudara kita yang rumahnya kebanjiran. Barang-barang cepat rusaklah, gak tau mau dibuat kemana, kalo rumah cuma tingkat satu.
Sebenarnya kalo belajar siklus kan, air hujan yang turun itu kan berputar disitu aja. Tapi kenapa bisa banjir dan airnya gak surut ya?
Ya bisa jadi karena sampah yang kita buang sembarangan (ntah malah langsung dibuang ke parit) itulah yang akhirnya menutupi saluran air, sehingga gak bisa air mengalir seperti seharusnya.
Jadi setiap sampah yang tidak kita buang sembarangan itu, berpotensi lho untuk mencegah banjir.

So mengapa tidak berbuat sedikit untuk kota ini?

Ya itulah curahan hatiku, sekaligus meratapi sepatuku yang udah nyelam di tengah banjir.
Tetap semangat bagi kita semua πŸ™‚

Sebuah Apresiasi Untuk Para Pengantar


Para pengantar?
Siapa mereka?

Beberapa hari lalu, aku diantar pulang oleh rekan satu tim di paskah alumni dan mahasiswa.
Ini bukan pengalaman pertama aku diantar.
Aku yang pecinta angkot ini memang sering kehabisan angkot kalo sudah malam, jadinya harus minta tolong diantar pulang. Kebanyakan ngantar pake kereta a.k.a sepeda motor *di medan sebutan sepeda motor itu kereta πŸ˜€
Dari sekian ratus x aku diantar ke rumah, akhirnya di saat itulah aku tiba pada satu pertanyaan.

“Apa yang dirasakan yang mengantar ini setelah dia pulang sendiri?”

Aku mulai berpikir. Selama diperjalanan aku yang dibonceng sering bercerita dengan yang mengantar. Walau malam sudah larut, tapi kalau bercerita pasti tak terasa. Tapi kalau tak ada teman bercerita, apa yang terjadi?

Aku sebagai yang diantar sudah bisa menikmati makanan dan minuman sambil nonton ataupun berbicara dengan keluarga?
Tapi bagaimana dengan si pengantar?
Dia masih harus kembali ke tempat tujuannya, sendiri. Hanya berpikir sendiri, menanti di lampu merah sambil berdiam diri. Berusaha untuk mengingat kembali jalan pulang, karena memang masih asing dirasakan. Bukan tak lelah membawa kereta, setidaknya begitulah penuturan kawanku di kuliah dulu.

Bahkan di kondisi yang sekarang begal lagi marak-maraknya dan dulu geng motor, pasti ada perasaan was-was di dalam hati.

Biasa kalo aku diantar, hanya mengucap terima kasih. Tak membayar, karena nanti macam ojek pulak jadinya. Jadi mungkin inilah yang bisa kukasi dulu ya.

“Sebuah apresiasi”

Setelah pertanyaan ini muncul, dan akhirnya berpikir seperti penuturan diatas, aku tahu bahwa aku harus mengucap syukur kepada Tuhan, bahwa ada orang yang masih mau seperti ini. Sudah lelah badan terasa, siap ngantar putar balik lagi menuju ke rumah/kosan, dan itu sendiri.
Sesungguhnya aku percaya orang-orang seperti ini pasti Tuhan sudah siapkan kado-kado atas setiap pengorbanan yang dikerjakan.
Itu yang aku pikirkan. Tuhan punya rencana yang baik untuk orang-orang ini.
Memang bisa saja malas melanda, tapi mereka memilih bersedia.

Inilah yang bisa kuberikan, sebuah apresiasi.
Tak ada maksud membuat post ini agar:”makin sering aku diantar pulang nanti, karena udah kuapresiasi dan kupuji”
Hahaha
Aku selalu mengusahakan lebih memilih angkot, karena angkot punya banyak cerita.
Jadi kalo udah gak realistis lagi dapat angkot, barulah cari bala bantuan πŸ˜€

So, mungkin kalian masih akan punya “quests” atau petualangan-petualangan lagi dalam mengantar orang ke depannya.
Tapi biarlah kalian terus bersemangat.
Karena percayalah selalu ada orang yang bersyukur untuk kalian, dan Tuhan senang disaat kalian menjadi berkat bagi sesama.

Bagi yang sering diantar pulang, mari tetap ingat menyampaikan terima kasih kepada para pengantar.

See ya πŸ™‚

sumber gambar: https://achmadsyaroni.files.wordpress.com/2013/01/mbahe-rossi.jpg