Cara Mudah Membuat Lagu Karo (Singuda-nguda Anak Perana Masuk)


Halo semua.
Apa kabarnya. Sehat?

Kali ini aku mau bahas tentang lagu Karo.
Teman-teman yang dari suku yang lain yang ada di Indonesia, pasti juga punya lagu daerah masing-masing kan?
Sama!
Kami di suku Karo juga punya lagu yang berbahasa Karo.

Dulunya sih aku tidak suka lagu Karo. Walaupun aku tinggal di Tanah Karo Kabanjahe, dan yang memang setiap stasiun radio disana sudah wajib hukumnya punya siaran khusus lagu Karo, tapi tetap saja aku tak tertarik untuk mendengarnya. Aku merasakan gak gaul kalo dengar lagu Karo. Lebih suka aku dengar lagu pop macam peterpan, nidji, project pop, ada band dll. Kan anak muda gaul. Hahahahaha *THH

Barulah semenjak masuk kuliah, aku mulai mengenal teman-teman dari suku yang berbeda. Dan temanku tersebut suka mendengarkan lagu daerahnya yang disimpan di hapenya. Dan ternyata ada pulak teman-temanku yang dari suku lain, malah suka dengan lagu Karo. Wah jadi malu aku jadinya, karena serasa tak punya identitas jadi orang Karo.

Akhirnya aku pun mulai meminta lagu Karo yang ada di hape kakakku. Pokoknya asal lagu Karo bluetoothkan aja kak kubilang. *dulu kan ngetren bluetooth kalo mau pindahi data. Eh sekarang juga masih ya? Awas virus :D*
Alhasil adalah lagu Karo di hapeku.

Ehh, nah pas udah punya lagu Karo juga tidak langsung aku suka mendengarnya. Kadang diputar dan kadang tidak. Hingga suatu saat kakakku membeli sebuah dvd konser lagu Karo Fitra and friends. Ternyata isinya lagu-lagu Karo yang sudah lama, tapi diremake serta disesuaikan dengan musik zaman sekarang. Wah ternyata enak-enak ya, ada yang dibuat jadi pop, jazz dsb.

Karena dvd itu, aku pun semakin suka dengan lagu Karo. Aku pun mulai memperbanyak lagu Karo di laptopku. Ditambah lagi kalo di medan, banyak supir angkot orang Karo, jadi makin sering kudengar lagu Karo kalo di angkot, dan semakin banyak perbendaharaan lagu Karoku. *gaya kali 😀

Dari banyaknya lagu Karo yang sudah kudengar, aku pun mendapati bahwa sebenarnya membuat lagu Karo sekarang ini cukup gampang. Tidak perlu membutuhkan materi yang begitu wow untuk bisa membuat lagu Karo. Ah yang serius? Iya aku serius, coba kita perhatikan beberapa lagu ini:

Teh Susu Telur

Jumpa Plaza

Tugu Monas

Cinta Semifinal

Borobudur

Apa yang kamu dapati dari beberapa lagu diatas?
Judul-judulnya sangat unik kan. Dan dari banyak hal bisa dijadikan lagu. Karena nonton sepakbola, dibuatlah lagu semi final, minum TST di kede kopi dibuatlah lagu Teh Susu Telur, jalan-jalan ke jogja dibuat lagu borobudur, dari jakarta dibuat lagu tugu monas.
Intinya yang kutangkap, apa aja bisa dijadikan materi lagu Karo.

Jadi misalkan ini, aku kan lulusan Ilmu Komputer, jadi bisalah aku buat lagu Karo yang judulnya:
-“Erlajar Nginstall Laptop”
-“Cinta C++”
-“Salah Koding”
Kan gampang kan, bermodalkan pengalaman di ilmu komputer dan bahasa Karo aku dah bisa buat lagu. Tinggal minta bantuan musisi buat liriknya.

Jadi teman-teman dari bidang ilmu lain, juga bisa buat lagu Karonya juga lho.
Misalkan anak ekonomi bisa buat lagu “Manajemen Cinta”, anak kedokteran bisa buat lagu “Sakit Jantung III”, anak MIPA bisa buat “Laboratorium Ate Ngena” dll.
Keren kan? Malah poin plusnya lagi, orang-orang yang mendengar lagu Karo semacam ini bisa bertambah wawasannya. 😀

Yah, itulah cara membuat lagu Karo. Simpel dan gampang kan?
Hahahaha.
Postingan diatas hanya buah imajinasiku saja.
Siapa tahu kan, bisa tercipta lagu yang akademis seperti itu 😀
Aku melihat memang lagu Karo sekarang simpel-simpel dan apa pun bisa dijadikan materinya. Aku tetap suka lagu Karo.
Tapi alangkah lebih baiknya lagi, jika lagu Karo tetap diperhatikan kualitas bahasa Karonya. Karena sekarang banyak lagu Karo yang sudah dicampur-campur bahasanya dengan bahasa Indonesia dan bahasa Karo. Bahasa Karo yang sangat asli, sudah sangat jarang dipakai dan diketahui kaum muda sekarang ini.

Aku kemaren baru tau, kalau bahasa Karonya gunting itu sebenarnya jampul. Tapi ya karena sudah sering pake bahasa Indonesia, jadinya selalu kita bilang gunting. Makin lama, makin habis lah kata-kata yang asli dalam bahasa Karo. Aku percaya masih banyak kata-kata asli Karo yang tidak aku ketahui. Oleh karena itu harapannya lagu Karo bisa diperkaya dengan kata-kata asli Karo. Biar orang muda kayak aku ini, bisa tetap menjaga keutuhan bahasa Karo dan punya identitas sebagai orang Karo serta bisa mempertahankannya.

Aku tidak tahu bagaimana dengan kondisi lagu daerah teman-teman semua, tapi mari kita lestarikan budaya suku kita.

Mari Lestarikan Budaya Karo.
Aku Bangga Jadi Kalak Karo 🙂

Marga Suku Karo dan Cabang-cabangnya (Ditambah Ulasannya)


Halo semua.
Kali ini aku mau posting tentang induk marga yang ada di suku Karo beserta cabang-cabangnya.

Sering temanku bilang margaku unik, karena seperti nama raja rimba “sinusinga” 😀
Tapi mungkin ada yang lebih keren lagi dari itu, yok cekidot:

Ginting
1. Ajartambun
2. Babo
3. Beras
4. Capah
5. Garamata
6. Gurupati
7. Jadibata
8. Jawak
9. Manik
10. Pase
11. Seragih
12. Sugihen
13. Sinusinga
14. Suka
15. Munthe

Karo-Karo
1. Barus
2. Bukit
3. Gurusinga
4. Jung
5. Kaban
6. Kacaribu
7. Karo Sekali
8. Kemit
9. Ketaren
10. Purba
11. Samura
12. Sinubulan
13. Sinuhaji
14. Sinukaban
15. Sinulingga
16. Sinuraya
17. Sitepu
18. Surbakti

Perangin-angin
1. Bangun
2. Banjerang
3. Kacinambun
4. Keliat
5. Laksa Bangun
6. Mano
7. Namohaji
8. Pencawan
9. Pinem
10. Sebayang
11. Singarimbun
12. Sinurat
13. Sukatendel
14. Tanjung
15. Teger
16. Ulun Jandi
17. Uwir

Sembiring
1. Berahmana
2. Bunuhaji
3. Busok
4. Colia
5. Depari
6. Gurukinayan
7. Kapour
8. Keling
9. Keloko
10. Kembaren
11. Meliala
12. Muham
13. Pandebayang
14. Pandia
15. Pelawi
16. Sinulaki
17. Sinupayung
18. Tekang

Tarigan
1. Bondong
2. Gana-gana
3. Gerneng
4. Gersang
5. Jampang
6. Pekan
7. Sibero
8. Silangit
9. Tambak
10. Tambun
11. Tegor
12. Tendang
13. Tua

Nah, itulah marga serta cabangnya yang ada di suku Karo. Mungkin masih ada yang lain sebenarnya, tapi katanya sih ada beberapa cabang yang sudah tidak diketahui lagi atau bahkan putus generasi. Beberapa mirip dengan marga di suku batak toba, simalungun, pak-pak ya.

Cara pemakaian nama marga itu beserta cabangnya adalah:
[nama][induk marga][cabang marga]
Misal kalo aku berarti, namaku Jakup, induk margaku Ginting dan cabang margaku Sinusinga. Jadi penulisannya:
Jakup Ginting Sinusinga

Tapi tidak semua marga terbiasa menggunakan susunan diatas, terutama marga karo-karo dan perangin-angin. Biasanya pemilik marga ini hanya mencantumkan induk marganya saja, ato cabang marganya saja pada namanya, tapi tidak keduanya sekaligus, misalnya Iwan Karo-karo (induk marga saj) ato Awin Sebayang (cabang marga saja.

Zaman sekarang ini, banyak orang Karo apalagi orang muda yang tidak tahu lagi apa cabang marganya. Dia tahunya cuma marga ginting ato sembiring, tapi gak tau cabangnya apa.
Tapi yang paling buat sedih, adalah banyak juga sekarang ini yang menyingkat marganya atau bahkan menghilangkan marganya sebagai identitasnya. Padahal marga itu adalah suatu identitas dari kita suku Karo.
Atau ada yang malu jadi suku Karo?
Kalo aku sih gak, aku bangga jadi orang Karo. 🙂

Budaya yang kian luntur harus tetap dilestarikan.
Tetap berdoa untuk proses penanggulangan bencana dan relokasi korban Gunung Sinabung Tanah Karo semuanya 🙂

NB: aku dapat info marga itu dari kalender adat Karo yang ada di rumahku 🙂

image