Jalan Kaki Pulang Dari Kantor


Jalan Kaki

Hampir dua bulan udah aku gak ngeblog.

Walaupun tiap hari memantau dashboard dan juga kepikiran beberapa hal untuk dituliskan di blog ini, tapi tetap aja untuk mengambil waktu dan mengumpulkan mood untuk menulis sulit untuk didapatkan, sampai tibalah hari ini.
Awalnya semua biasa-biasa saja. Aku berangkat ke kantor, mengerjakan pekerjaan dan setelah itu pulang. Dan hal yang lebih biasa adalah, walaupun ini sudah tanggal muda tapi dompetku masih kelihatan tua. Uang di dompetku hanya tinggal selembar, tapi bukan selembar biasa. Ini adalah lembaran Soekarno-Hatta #iykwim :D. Yap, uang 100an. tapi itu sebenarnya udah termasuk uang simpanan, karena gaji belum datang, uang simpanan pun akhirnya harus turun membantu jalannya kehidupan.

Biasanya aku berjalan ke simpang dari kantor. Tapi kalau ada orang yang kebetulan bawa kendaraan mau pulang ke depan, kadang aku nebeng. Dan hari ini ternyata ada bang eman, teman satu kantorku, di mau pulang, jadinya aku bisa nebeng. Sesampainya di simpang, aku pun turun karena aku dan bang eman berbeda arah rumah. Jadi aku pun nyebrang untuk menunggu angkot pulang ke rumah. Saat sudah datang angkot yang jurusannya sesuai dengan arah rumahku, aku baru teringat, ternyata uangku hanya 1 lembar uang proklamator.

Kalo aku kasi uang proklamator waktu bayar ongkos, feelingku gak enak. Karena dari pengalamanku sering, yang bayar ongkos pake uang 50 ribu aja pun sering kena semprot sama supir, ini apalagi uang 100 ribu. Ah, niatku untuk naik angkot pun kubatalkan. aku memutuskan untuk menukar uangku terlebih dahulu.
Aku mulai berjalan, memperhatikan setiap pinggiran jalan, dimana kira-kira aku bisa memecahkan uang 100 ini. Pertama lewatlah aku di depan tukang sate. Wah mantap kali harumnya pikirku. Tapi berhubung ini masih belum jelas gajiannya kapan, aku pikir hemat-hemat dululah, beli keperluan yang memang wajib dibeli ajalah, bukannya makan di luar (karena kakakku masak di rumah). Akhirnya kuputuskan, aku mau membeli odol saja, karena memang odolku sudah habis.
Mulai dari pajak setiabudi, aku mencari-cari indomaret atau alfamart. Ternyata sampai simpang dr.mansyur pun ku cari tidak ada. Sebenarnya disitu ada minimarket, tapi iklan di depannya katanya dia jual snack dll impor. Bah, elit kali lah aku, mau gosok gigi pun pake odol impor, apalagi pas lagi tinggi kali nilai tukar rupiah dengan dolar. Bisa-bisa nangis aku pas gosok gigi, soalnya dolar ini yang kugosok-gosok ke gigiku.

Ku teruskan perjalananku sambil memperhatikan kiri dan kanan. Perjalanaku tidak seperti lagu naik-naik ke puncak gunung, karena kiri kanan kulihat banyak, bukan pohon cemara, tapi tukang putu, tukang goreng, tukang jus, tukang susu, tukang sate, tukang pizza, tukang bebek goreng, tukang buah sampai tukang parkir. Wah, tak terasa aku berjalan, ternyata udah sampai di gerbang depan Tasbi, jalan utama masuk ke kantorku (biasanya aku ke kantor dari jalur belakang/backdoor, dari pajak setiabudi).

Ini uang belum juga pecah-pecah. Padahal aku udah jalan cukup jauh. Tapi memang aku lagi gak ada kerjaan, ya udahlah pikirku, coba jalan sedikit lebih jauh lagi manatau ketemu. Jalan ku terus berjalan, akhirnya sampai di jalan Abdul Hakim (tembusan kampung susuk dekat USU), akhirnya ketemu indomaret. Singgahlah aku di Indomaret itu.
Masuk ke indomaret, aku pun berharap akan dapat ucapan “Selamat Sore, silahkan berbelanja” dari penjaga indomaret. Ternyata pas aku masuk, gak ada yang ngucapkan apa-apa. Ah, bohonglah meme yang tadi pagi kubaca, katanya jangan baper kalo pas di indomaret ato alfamart ada yang ngucapkan selamat pagi ato selamat sore. Nah, ini aku masuk malah gak ada ucapan apa-apa. Dapat ucapan nggak, kena baper iya *combo attack*.

Yaudahlah pikirku, aku pun berjalan ke arah tempat odol, untuk mencari odol yang biasa kupakai. Pas nyampe, kulihat ada odolnya langsung kuambil. Aku berkeliling bentar, sebelum ke kasir, melihat-lihat apa yang bisa dimakan. ternyata karena udah jauh jalan, lapar juga perutku. Pas aku lihat, ada potato chip yang belum pernah kumakan. Coba ahhh, pikirku dan aku pun menuju kasir untuk membayar. Pas membayar ternyata total yang kubeli sekitar 40 ribu. Bah, teringat aku, padahal tadi niatku mau hematnya, nah ini malah jadi lebih banyak pengeluaran. Tapi yaudahlah kubayar aja. Setelah membayar aku bergegas keluar. Ternyata pas keluar pun aku tetap aja gak ada sapaan dari yang jaga indomaret ini. Ah sudahlah mungkin aku terlalu baik buat mereka.

Sambil makan chip itu aku pun berjalan menuju ke tempat nunggu angkot, karena uangku sekarang gak uang proklamator lagi, tapi aku udah ditemani sama I Gusti Ngurah Rai, Sultan Mahmud Badaruddin, 2 Pangeran Antasari sama 2 burung Kakatua Raja (ayo tebak berapa jumlah uangku sekarang :D). Setiap angkot yang lewat isinya padat semua, aku pun mulai berjalan saja sambil ngemil, manatau nanti ada angkot yang lewat agak lengang. Ternyata aku jadinya malah keasikan jalan, karena ternyata aku udah sampai di pasar 2 setiabudi. Wah udah makin dekat aja ke rumah pikirku (walaupun masih berjarak sekitar 1 atau 2 KM lebih dari rumahku).
Aku pun mulai berpikir, ini aku masih mau naik angkot ato lanjut jalan kaki aja ke rumah. Karena memang kakiku udah agak berasa pegal ini. Tapi coba ajalah jalan terus, pas udah gak tahan lagi nanti naik angkot aja pikirku lagi. Aku pun lanjut berjalan.

Selama berjalan, orang-orang banyak yang memperhatikanku. Baik yang di angkot, di kendaraan ato yang di toko dan warung di pinggir jalan. Mungkin janggal ya, karena aku pake tas besar (aku bawa laptop) sama pake sepatu pancus tapi jalan kaki. Jelas-jelas sepatu pancus itu bukan kategori sepatu sport, dibilang backpacker juga orang gak bakal percaya, mana ada orang backpacker pake sepatu pancus :D. Tapi yaudahlah pikirku, aku lanjut jalan aja. Biarlah aku seperti berjalan di catwalk, semua mata tertuju padaku 😀

Asik juga sih ternyata jalan-jalan sore gini di kota Medan. Walau macet di tengah jalan, tapi di tepi jalan bisa melaju gas terus. Langit yang masih terang dan cerah pun enak untuk di pandang. Aktivitas orang-orang di sore hari pun masih kelihatan penuh gairah, karena memang banyak yang memulai aktivitasnya di sore hari, terkhusus yang berjualan. Melihat hal-hal yang lebih detail lagi, karena memang selama ini aku lihat pas di angkot, tapi pas berjalan aku malah lihat banyak hal yang gak aku perhatikan selama ini. Lumayanlah perjalanan sore ini untuk merefresh kembali otak yang sudah cukup capek berpikir ini.

Beberapa menit kemudian tibalah aku di lampu merah ringroad. Walau sudah agak capek, tapi ini sudah sangat dekat ke rumahku. Aku pun lanjut berjalan terus sampai akhirnya tiba di simpang pemda. Di simpang pemda, langit sudah tidak terlalu cerah, karena jam sudah menunjukkan pukul 18.20. Kulanjutkan berjalan, akhirnya sampailah aku di rumah pukul 18.35. Ternyata aku sudah berjalan sekitar 1 jam.

Wow, gak nyangka ternyata bisa juga aku jalan kaki pulang dari kantor. Memang gak pernah terpikir untuk pulang dengan berjalan kaki, apalagi jarak rumah ke kantor tidak dekat, berjarak sekitar lebih kurang 4 KM. Tapi yeah, i made it. Berjalan menaiki gunung mungkin lebih menarik dan memang aku tadi gak naik gunung dan akhirnya poto di puncak dengan tulisan di kertas. Tapi setidaknya aku melakukan sesuatu yang mungkin dirasakan orang “kurang kerjaan” ato “tah apa-apa” dan ya, aku melakukannya. Memang aku suka hal yang anti mainstream 😀

Demikianlah kisahku hari ini. Aku merasa perlu menuliskannya, karena secara pribadi ini menarik bagiku. Berjalan menikmati sore di kota Medan. Semoga kaki ini masih tetap kuat. Soalnya gak tau di hari esok, dompet masih kering atau sudah musim penghujan. Kalo tetap masih belum gajian, kayaknya bakal sering aku jalan kaki pulang dan pergi ngantor ini 😀 *Impossible, masak kembali ke zaman dahulu aku 😀

Selamat malam untuk kita semua.
Selamat beristirahat.

Salam dari Jakup, di kejauhan 4 Km dari kantor di tasbi :’D

Ketika Alam Menghabiskan Waktu di Masa Puasa


Naik-naik, ke dalam angkot..
Panas-panas sekali….

Kiri-kanan kulihat banyak..
Orang jual bukaan puasa…

Yak, itulah sedikit nyanyian yang terlintas di pikiranku, saat perjalanan ke rumah. Di tengah panasnya kota Medan, memang berbagai macam menu bukaan sangat menggugah selera.

Sekarang sedang dalam masa puasa, bagi saudara-saudaraku semuanya.
Seperti biasa, kalau lagi masa puasa begini sore menjelang malam ada begitu banyak yang menjual makanan untuk buka puasa.
Mulai dari cendol, kue basah, cenil, sirup dan lain-lainnya.
Wow, mantap.
Tapi eits, yg berpuasa harus tahan selera sampai waktunya berbuka 🙂

Memang lebaran masih sekitar 2 minggu lagi.
Tapi tetap saja, suara mercun sana sini sudah mulai ikut menemani si penjual bukaan.
Macam-macam mercun dan petasannya. Mulai dari level rendah (kembang api) sampai level tinggi (mercun yang bisa meledak berkali-kali di langit) sudah menghiasi langit di sekitar rumahku.

Tak ketinggalan keponakanku juga ikut ambil bagian main mercun2 ini. Tapi dia cuma main kembang api aja. 2 hari yg lalu dia semangat kali mengajakku untuk main bersama. Aku sebenarnya menolak untuk main kembang api bersamanya.
Ya iyalah ditolak, dia ngajak main kembang api siang-siang, ya gak nampaklah kembangnya api itu.
Tapi dia terus menerus membujukku, dan akhirnya aku pun tak kuasa menahan bujukannya, dan akhirnya aku ikutan juga main kembang api.
Ya gak apa-apalah itung2 menyenangkan hati ponakan *padahal aku pun senangnya dalam hati. Sampe kuputar2 juganya kembang apinya itu 😀

Kembali lagi ke malam ini. Mulai kulihat ke arah kanan, disaat aku berjalan ke dalam gang rumahku. Wah ada kembang api yg cukup lama dan besar ledakannya. Lumayan bisa menikmati, gratisan lagi 😀
Dan pikirku dalam hati, biasanya kalo ada 1 orang udah nyalakan mercun pasti yang lain juga ikutan. Dan pasti ada adu kuat-kuatan mercun siapa yang paling kuat.

Kunanti-nanti lah balasan mercun itu. Tidak berapa lama, muncullah kilatan petir kulihat dari kejauhan.
BAH.
Ternyata yang membalas mercun itu adalah si alam.
Ternyata alam raya juga ikut-ikutan main mercun di masa puasa ini, gak mau kalah sama orang-orang.
Sontak gak ada lagi kudengar suara mercun di mana-mana.
Langsung menyerah semua kurasa ya, kalo alam udah turun tangan.:D

Takut tersambar mungkin ya.
Ato mungkin takut udah mau hujan, nanti mercunnya malah tak nyala satupun 😀

Mercun terkuat pun akhirnya mengalahkan semua mercun (baca:Petir)

Selamat berpuasa untuk saudaraku semua.
🙂

Digidoy – Telor dan Orang Medan


—-Medan—-
Katanya sih banyak yang takut ke Medan, apalagi yang dari luar Sumatera Utara.
Katanya orang Medan itu kasar, keras, dan menyeramkan.
Katanya di Medan itu gak aman.
Nah itu kan katanya.
Tapi tau gak gimana Medan dan orang-orangnya sebenarnya?

Disinilah digidoy hadir untuk mengenalkan Medan.
Gak hanya ke orang diluar Sumatera Utara, tapi juga Internasional. Malah kalo bisa penduduk planet lain juga kalo mau kenal lebih dalam tentang Medan, digidoy siap untuk menceritakannya. Meski harus mengeluarkan uang banyak beli roket ke luar angkasa, digidoy gak segan ngeluarin uang 😀 lagian digidoy ini juga bakal laris di luar angkasa nanti, soalnya dia kan punya tampang alien, jadi menjuallah di luar angkasa sana 😀

—-Digidoy—-
Dengan ide cerita yang khas, digidoy mampu menyajikan hiburan yang tidak membosankan.
Selalu ada hal yang lazim terjadi di kota Medan, yang mungkin dianggap biasa-biasa oleh orang Medan sendiri. Tapi digidoy mengemasnya jadi tak biasa. Disitulah kemudian mengapa digidoy selalu dinanti-nanti. Entah apa lagi yang mau diangkat.

Dan menurutku secara pribadi, humor yang disajikan oleh digidoy ini adalah humor yang cerdas. Karena banyak permainan logika yang dimainkan didalam, dan dari situlah kelucuannya jadi terasa segar dan nikmat.

Di dalam seri komik digidoy sendiri ada 4 orang karakter utama yang akan sering muncul. masing-masing karakter punya ciri dan keunikan masing-masing.
Mereka adalah Digi, Doy, Coki dan Dev.

1.Digi
digiDigi mungkin bukanlah orang asli Medan, karena memang udah kelihatan dia beda kan. Yang lain bentuk manusia, dia sendiri bentuk telor. Mungkin dia itu alien yang merantau ke Medan.
Dia kemana-mana selalu sama si doy. Tak jarang dia jadi korban keisengan si doy, tapi kalo dipantau si digi ini juga sering usil juga sama doy. Si digi juga kayaknya numpang kos sama si doy.

2.Doy
doyDoy ini adalah sahabatnya si digi. Aku pikir, dia ini adalah representasi dari si komikus digidoy ini bang Dody Pratama.
Digambarkan dia sebagai anak kosan yang jomblo dan sering kenak bully.
Tapi dia tetap setia jomblo katanya, karena katanya kota terjomblo di Indonesia itu Medan.
Gak tau apa pekerjaan si doy ini, tapi mungkin sama dengan penciptanya ‘komikus’ juga 🙂

3.Coki
cokiNah, si kawan inilah representasi orang Medan dan juga batak yang paling jelas digambarkan. Dari gaya omongnya dan hari-harinya juga kelihatan.
Dia kerjanya kadang gak jelas, kadang narik becak, kadang narik angkot, kadang narik selimut alias tidur-tidur aja, tapi dia tetap pantang menyerah. Khas orang batak sekali.
Walau ngomongnya kasar, tapi dia baik kok suka nolongi orang.

4.Dev
devPria yang tegap kekar ini biasa dipanggil bang dev.
Kerjaannya kayaknya sama dengan namanya, mungkin software developer. Soalnya sering bang dev ini promo tentang kegiatan yang berkaitan dengan IT.
Bang dev ini juga suka kali meleseng-lesengi alias manas-manasi doy dkk.
Tapi dia tetap sahabat yang baik kok buat semua.
Apalagi kalo mau traktir bakso.

—-Bertahan Lama—-
Aku pikir digidoy ini bisa bertahan lama.
Mengapa?
Karena mereka punya ciri untuk dipertahankan. Mungkin sudah banyak orang yang mencoba mengenalkan Medan melalui kaos dan sebagainya. Tapi melalui komik? Aku pikir baru mereka.
Dan tentunya akan lebih efektif menceritakan Medan dengan komik kan? lebih banyak yang bisa dibahas.

Dan mungkin memang ada waktu nantinya disaat sudah hampir semua hal dan kebiasaan yang terjadi di Medan habis diulas merek. Tapi aku pikir, dengan modal “Kek Ginilah Medan” mereka, mereka bisa tetap mengangkat topik hangat yang terjadi di seluruh Indonesia atau Dunia, dari kacamata “Kek Mana Medan” memandangnya. Jadi istilahnya “Kek Ginilah Medan Memandang Dunia”.
Aku pikir itu akan bisa membuat digidoy bertahan terus, dengan mengupdate kontennya dengan hal-hal yang sedang berkembang.

—-Mengapa Perlu Membaca Digidoy—-
Nah ini, mengapalah kelen2 perlu dan butuh baca digidoy?
Karena digidoy dan Medan punya banyak cerita untuk dibagi.
Dengan logat yang khas dan humor yang cerdas, cerita yang diramu oleh digidoy sangat menghibur. Buktinya pasti kelen udah ketawa2 pas baca komik digidoy di sepanjang posting ini 😀

Dan juga kalo boleh aku saran, digidoy kedepannya bisa mengangkat tentang kebudayaan di Medan serta dari masing-masing suku yang berdiam di Medan. Banyak suku yang ada, dan aku pikir sudah banyak pemuda yang sudah tidak mengenal kebudayaan sukunya. Jadi kalo digidoy bisa mengangkat topik itu dan mengenalkan Medan dan keragamannya kepada semua orang, bukankah itu sebuah wujud cinta Digidoy pada Medan dan Indonesia?

So, tunggu apa lagi?
Langsung aja buka fanspagenya di:
https://www.facebook.com/digidoy

dan ini websitenya:
http://www.digidoy.com

cukup tekan like, dan rasakan khasiatnya setiap hari.
pasti ketawa2
😀

BONUS<\strong>—

Blog ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Digidoy Komik –

Kalo Medan Hujan Dan Banjir Terus

Kalo Medan Hujan Dan Banjir Terus

Sudah beberapa hari ini hujan deras selalu turun di kota Medan. Siangnya cuaca bisa sangat panas, tapi kalo udah sore mulailah mendung dan kemudian hujan.
Enak sih kalo hujan di medan, karena sedikit lebih adem hawanya. Tapi kalo hujan terus turun dan tak kunjung berhenti, nah inilah yang bikin banjir.

Nah, kemaren aku buat status di facebook, tentang banjir di Medan ini. Aku bilang:

image
Status Facebook

Nah, ada juga kakak dan temanku yang menimpali dengan imajinasinya.
Maka jadi panjanglah imajinasiku 😀

1. Angkot dalam bentuk speedboard, becak pake jetski
Nah kayak yang kubuat di statusku, mungkin itulah yang akan terjadi di jalanan kota Medan, kalo Medan banjir terus. Udah gak ada lagi mobil mewah, udah digantikan dengan kapal pesiar nantinya. Polisi juga udah gak pake mobil dan sepeda motor lagi, tapi pake kapal selam. Jadi hati-hati bagi pengendara, karena pas ada razia nanti, polisinya gak kelihatan lagi, karena mereka ada di dalam kapal selam. 😀

2. Renang dan menyelam bukan lagi olahraga dan hiburan, tapi untuk penghematan
Bayangkanlah, kan udah air semua, jadinya gak bisa lagi jalan kaki kemana-mana. Kita mau beli sampo ke warung dekat rumah, pun harus berenang dulu. Bisa aja malah siap beli sampo, kita pulang ke rumah, sambil sampoan pas berenang. Buat anak kosan yang lagi bokek, udah gak ada uang buat naik angkot. Ya jarak 1 km pun ditempuhlah dengan cara berenang, biar hemat pulang dari kampus ke kosan. Kalo disuruh lomba triathlon, gak ada lagilah lawannya anak kosan di Medan ini nantinya.

3. Restoran-restoran udah ada dibawah air
Sekarang udah ada kan beberapa restoran yang menawarkan fasilitas makan di bawah laut. Jadi mungkin kalo medan banjir terus, udah bisalah dibuat restoran bawah air. Jadi kalo mau masuk, harus nyelam dulu. Bayangkan mau makan KFC kita udah gak perlu cuci tangan lagi, karena sambil menyelam kita bisa cuci tangan dulu.

4. Istilah seafood gak tenar lagi, tapi landfood
Ya kalo semua air kan, berarti langka daratan. Mungkin sayur yang sering dimakan itu rumput laut dan lauknya pake ikan. Kalo lagi bosan dengan menu biasa, bisa datang ke restoran landfood. Disitu ada banyak dijual makanan kayak, nasi goreng spesial landfood,  mie goreng landfood. Kerang rebus udah gak ngetren lagilah pokoknya. *emang sejak kapan kerang rebus jadi trend? 😀

5. Pakaian yang banyak dijual pakaian renang dan nyelam
Mall semacam Ramayana aku pikir masih tetap ada, dengan mbak-mbak yang selalu promo diskon pake micnya. Tapi yang dipromosikan adalah pakaian renang. Nanti pakaian renang bakal banyak jenisnya, mulai dari casual, hipster, harajuku, formal, sampai batik dan model kebaya. Gak cuma yang asli, pasar loak juga masih akan menjamur. Mulailah dipampangkan celana renang dari yang berenda sampe yang berlampu *ala pajak petisah katanya. Katanya celana renangnya diimpor dari korea, pernah dipake personil super junior 1x ganti-gantian :D.
Optik juga masih ada, dan gak cuma orang yang bermata minus kayak aku yg datang kesini nanti, tapi semua orang, karena butuh kacamata renang.

Itulah beberapa imajinasiku tentang banjir di Medan ini.
Itu hanya imajinasi ya, karena aku pun tak mengharapkan Medan terus-terusan banjir. Kemarin aja pulang kerja, terpaksa aku buka sepatu menembus banjir, karena banjirnya menutupi seluruh jalan.
Juga pasti merepotkan bagi saudara-saudara kita yang rumahnya kebanjiran. Barang-barang cepat rusaklah, gak tau mau dibuat kemana, kalo rumah cuma tingkat satu.
Sebenarnya kalo belajar siklus kan, air hujan yang turun itu kan berputar disitu aja. Tapi kenapa bisa banjir dan airnya gak surut ya?
Ya bisa jadi karena sampah yang kita buang sembarangan (ntah malah langsung dibuang ke parit) itulah yang akhirnya menutupi saluran air, sehingga gak bisa air mengalir seperti seharusnya.
Jadi setiap sampah yang tidak kita buang sembarangan itu, berpotensi lho untuk mencegah banjir.

So mengapa tidak berbuat sedikit untuk kota ini?

Ya itulah curahan hatiku, sekaligus meratapi sepatuku yang udah nyelam di tengah banjir.
Tetap semangat bagi kita semua 🙂

Petualangan Di Kota Medan Dengan Google Maps


Hai semua.
Apa kabar?

Hari ini aku berpetualang di kota Medan. Seperti apa petualangannya? Mari kita baca.

Jadi petualangan ini dimulai dari jam 5 pagi tadi. Saat jam sudah menunjukkan tepat pukul 5, langsunglah aku mendapat telpon bergantian dari 3 orang temanku (baca:kak desi, kak eva dan kak destri). Mengapa mereka meneleponku? Karena aku emang minta tolong sama mereka, untuk membangunkanku lewat telepon soalnya aku takut tidak bisa bangun lebih awal untuk memulai petualanganku.
Dapat telepon dari 3 orang, cukup untuk membuatku akhirnya bangun dan tidak tidur lagi. Akhirnya aku pun bersaat teduh.

Selesai saat teduh aku berdiri dari tempat tidur, aku merasakan bahwa kakiku sedikit naik betis. Ini pasti karena semalam aku salah duduk pas jadi moderator.
Aku pun masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi aku langsung disambut sikat gigi, odol, gayung dan sabun, yang selalu setia menemaniku di kamar mandi ini. Aku pun mandi, sambil bernyanyi di depan layar tertutup. Tapi sayang hari ini aku tidak bisa mengalahkan vote sainganku, oleh karena itu layar di depanku pun tidak terbuka, padahal empat juri sudah memberikan votenya samaku. Eh tunggu dulu, aku kan mandi bukan ikut lomba Rising Star 😀

Selesai mandi, aku kembali ke kamar. Di kamar aku ganti pakaian, dan karena jam masih menunjukkan jam 5.30 aku duduk sebentar di tempat tidur. Seperti biasa, kalo bangun lebih pagi, tempat tidurku selalu menebarkan pesona lebih sehingga membuatku ingin tidur lagi. Gak ngefek baru mandi, tetap aja aku masih ngantuk. Tapi syukurlah aku bisa memotivasi diriku, untuk tidak tidur, karena bisa kebablasan kalo tidur lagi sekarang.

Akhirnya sampailah di jam 6. Aku pun berangkat. Langit di luar masih gelap, walaupun sudah agak banyak orang yang berjalan. Inilah pengalamanku pertama kali, berangkat pas hari masih gelap dengan pakaian rapi. Memang sering juganya aku keluar pas hari masih gelap, tapi itu karena disuruh beli kelapa parut ato ikan sama mamakku. Ya jadinya, bajuku pun masih baju tidur, dan biasanya mandi pun tidak.
Aku pun berjalan ke simpang dari rumah.

Sampai di simpang, aku langsung menunggu angkot ke tempat tujuanku. Hampir beberapa menit juga aku menunggu, karena angkot tak kunjung datang. Mungkin karena masih pagi-pagi ya. Teng ting teng. Beberapa menit kemudian, angkot yang ditunggu pun datang. Di angkot itu hanya ada abang supir dan 1 orang gadis.dengan pakaian kerja yang duduk di belakang. Angkot pun berangkat dan melaju dengan kencang, karena memang jalanan masih lengang. Di tengah angkot yang melaju sangat kencang, aku masih mengantuk sebenarnya tapi aku tidak bisa menghentikan pandanganku dari si gadis itu. Sesekali aku meliriknya, lalu kupandang keluar lalu kulirik lagi. Aku terpesona dibuatnya, soalnya rambutnya terbang ke belakang, karena angkot berjalan sangat kencang. Aku jadi teringat dengan songoku di dragonball, waktu dia berubah jadi super saiya. Jadi rambutnya terbang-terbang juga. Jangan-jangan gadis ini juga keturunan saiya. 😀

Sampailah aku di tujuan. Aku membayar ongkos dan kemudian mengambil hapeku. Jam sudah pukul 6.30. Sebenarnya aku janjian dengan temanku (Kak destri dan Nulika) ketemu di tempat ini jam 6.45. Namun karena aku datang 15 menit lebih awal, aku memutuskan untuk berangkat terlebih dahulu ke tempat yang sebenarnya akan kami tuju. Aku membuka google maps di hapeku, dan memasukkan alamat tempat yang aku tuju. Ternyata dari tempatku berdiri dengan tempat yang kutuju berjarak 1 Km. Sambil masih dalam kondisi sedikit mengantuk aku pun memutuskan untuk berjalan, dan mengikuti petunjuk di google maps. Karena GPS ku aktif, jadi setiap aku berjalan petunjuk di google mapsku juga bergerak. Jadi ketahuan sudah di mana posisiku, kalo ke kiri maka petunjuk akan bergerak ke kiri, dan kalau ke kanan maka dia juga ke kanan.

Sangat seru kurasakan, karena seperti mencari sebuah harta karun dari peta rasanya. Terus aku berjalan sambil mengikuti arahan peta ini. Memang tidak lewat hutan-hutan dan menyebrang sungai aku serta juga tidak ada binatang buasnya. Walau kakiku masih terasa sedikit saki tapi tetap saja menyenangkan. Hingga akhirnya tempat yang kutuju pun sudah mulai dekat, dan akhirnya aku pun sampai setelah 20 menit aku berjalan. Wah senang sekali rasanya saat sampai di tempat ini. Karena memang tempatnya agak tersembunyi di dalam gang bukan di pinggir jalan. Jadi seperti tempat rahasia kalau di game GTA.

image

Jangga House.
Inilah sebenarnya tempat yang aku tuju. Ini adalah sebuah penginapan yang ada di daerah peringgan atau Iskandar Muda Medan. Jadi disini aku mau berjumpa dengan 1 orang pembicara di Retreat yang akan kami kerjakan di bulan 1 akhir, bg Tadius Gunadi. Akhirnya temanku pun menyusul dan sampai juga disini. Tapi mereka bertualang sama tukang becak 😀
Kami pun berdiskusi sambil dijamu sarapan pagi oleh bang tadius. Banyak hal yang dibagikan oleh abang tersebut, terutama bagaimana seharusnya sebagaimana Murid Kristus.

Itulah petualangan yang aku kerjakan hari ini. Aku sangat bersyukur Tuhan izinkan merasakan petualanganku ini. Tidak sia-sia aku bangun pagi, lalu berjalan jauh walau kaki sedikit sakit dalam kondisi masih ngantuk. Memang saat kita melayani, Tuhan selalu berikan sukacita dan cerita yang indah bagi kita. Walaupun memang selalu ada yang dikorbankan dan diperjuangkan, tapi Tuhan selalu hargai pelayanan kita.

Mengikut Kristus memang menderita, tapi bukan berarti kita tidak sukacita.
Itu yang dikatakan bg Tadius di akhir pembicaraan kami.
Aku bersyukur, walaupun hanya dalam bentuk kecil, tapi aku bisa belajar “menderita” untuk Kristus.

Salam Murid Kristus 🙂

*lupa berfoto dengan bg tadius tadi.
Tapi tak apalah 😀

Kulintasi Malam Kota Medan


Sendiri ku berjalan
Di tengah malam tanpa awan
Melintasi jalanan kota Medan
Lebih tepatnya di daerah pinggiran

Pinggiran bukan berarti tak menawan
Banyak cerita yang digambarkan
Ada yang lagi pacaran
Ntah memang pacar betulan
Ato cuma lagi nunggu hasil fotokopian

Kembali kuberjalan
Kembali kulihat sejumlah kawan
Bermain gitar di depan rumah sewaan
Sambil badan keringatan
Karena medan panasnya tak tertahankan

Kupandang ke seberang jalan
Anak kecil lagi jajan
Memilih berbagai jenis cemilan
Dengan muka penuh harapan
Berharap dapat banyak yang gratisan

Aku bersyukur pada Tuhan
Di beri kekuatan untuk berjalan
Dari simpang sampai ke halaman
Menikmati ciptaan-Nya yang mengagumkan
Memandang berbagai kehidupan
Ada yang dalam kebimbangan
Serasa penuh dalam kegalauan

Tak usah khawatir kawan
Selalu ada pengharapan
Di dalam Dia si pemilik kehidupan
Yang menolong jiwa yang tertawan
Yang penuh kegelisahan
Menuju satu kebebasan
Menjalani hidup dengan senyuman

(Simpang Pemda – Gg.Sehati 22
Perjalanan yang sangat kunikmati malam ini
24 Juni 2014
22.00)